a blog by Galuh

a blog by Galuh

33 Tahun & Privilese

33 Tahun & Privilese

Aku berulang tahun dan membuat sebuah catatan.

Tepatnya kemarin, usiaku 33 tahun. Aku ingin menulis tentang diri sendiri, dan aku mau kamu membacanya.

Beberapa waktu belakangan ulang tahun kurayakan dengan diam, menjaganya terdengar hanya dalam kelompok kecil. Dalam dunia sosial yang kian dimediasi oleh teknologi, aku tidak punya tenaga untuk menerima ucapan selamat dari orang yang tak dikenal cukup baik. Masalahnya tidak terletak di orang lain tentu saja, karena ucapan dan doa adalah niat baik, oleh siapa pun itu dikenal atau pun tak. Masalahnya aku memang tak punya energi sebegitu besar untuk berbagi tentang sebagaimana membahagiakan, atau seberapa berarti kelahiranku ke dunia ini.

Aku tahu kita tidak dapat memilih dilahirkan dari orangtua seperti apa dan dalam lingkungan keluarga yang bagaimana. Begitu juga dengan anak-anakku. Seorang teman pernah berkata bahwa aku orang yang tidak jenak. Tidak jenak sama dengan tidak hadir. Tidak sejenak. Not present. Tidak carpe diem. Di mana tubuh berada, pikiran melayang kemana-mana. Bagiku, getting chill takes skill.

Jika ada hal yang begitu menggelisahkan dan membuatku tiba-tiba menangis dalam malam yang diam, adalah peran sebagai orangtua untuk anak-anak. Pasti banyak juga orangtua seperti ini. Sebagai orangtua, sudah tiga tahun sehari-hari mengurus anak seorang diri. Aku ragu apakah memiliki kelapangan yang cukup untuk membesarkan anak-anak. Meragukan diri punya cukup energi dan kasih sayang untuk mereka. Bagaimana caranya anakku mendapatkan kasih sayang yang mereka butuhkan dari orang yang bolong? Bolong dan berlubang. Terdengar menye-menye, tapi ini bukan hal sepele. Relasi orangtua-anak ini… Haaa…

Bagaimana caranya seseorang yang sejak kecil menyaksikan dan mengalami kekerasan punya kosa tentang bersyukur. Oke, kucoba sedikit. Terima kasih Mama sudah menodongkan pisau dan membuatku ketakutan, aku takut sekali dipotong dan benar-benar dimakan. Oh aku juga harus bersyukur pada Papa yang bekerja keras membesarkan dan menyekolahkan anak-anak. Terima kasih, Papa, kamu sudah bikin Mama jadi gila. Oh well bukan Papa seorang, karena dalam psikologi dia ada di tahap Precipitating. Ada yang disebut Primary Cause dan katanya ini faktor genetik walau persenannya kecil.

Tapi kan bisa di-switch? Karena kamu mengalami hal buruk, kamu punya kesadaran agar anak-anakmu tidak mengalami hal serupa? Ada usaha untuk memutar perspektif dalam memandang hidup, itu betul. Tapi bank pengalaman, alam pikiran yang sudah terdistorsi kadung menjadi zona nyaman. Aku tidak cukup punya simpanan untuk memberitahu pada anak-anakku bahwa hidup ini -misalnya- indah? Seperti jiwa-jiwa berbahagia, orang-orang yang merasa cukup, aliran bahagia itu sederhana, mazhab positive vibes. No, i never had enough. I’m so sorry.

Dulu aku tidak paham mengapa bisa-bisanya menangis saat datang ke rumah teman yang punya foto keluarga di rumahnya. Atau melihat anak-anak yang bisa hangat bicara dengan orangtuanya, mempunyai ibu yang ramah, aneh. Pemandangan yang aneh, lebih aneh lagi karena aku menangis melihat semua itu. Sampai sekarang pun aku masih kerap merasa awkward melihat anak (dewasa) yang mampu praising their parents. Because i can’t haha…

Sekarang saat orang-orang bicara tentang privilese, mereka lupa satu hal bahwa privilese tidak melulu tentang kesejahteraan (wealth) tapi juga kesehatan (health). Memang betul beruntung sekali nasib orang-orang yang berkecukupan, dapat kesempatan sekolah dan jaringan yang luas, akses yang baik terhadap fasilitas kesehatan. Sungguh kasihan orang-orang miskin, sejahtera tidak, kesehatan cari alternatif, kekerasan banyak terjadi.

Tapi hey aku tidak datang dari keluarga miskin, kami berkecukupan meski tak berlebihan. Sulit sekali rasanya kalau Ibumu yang mampu membeli barang-barang tetap saja selalu merasa miskin. Mental yang merusak. Privilese yang kulihat adalah “beruntung sekali ibumu bisa kerja, beruntungnya bisa punya orangtua yang harmonis, beruntung sekali kamu bisa tumbuh bahagia sebagai anak-anak dan tidak perlu melihat Ibumu digampar dan ditendang, beruntungnya kalian anak-anak perempuan tak dilempar kata-kata seperti sundal dan pelacur dari orangtua sendiri.”

Keluarga yang harmonis adalah sebuah privilese, orangtua yang sehat mentalnya adalah privilese. Karena kekerasan ada di sekitar kita, tak kedengaran, teriaknya keras dalam batin.

Maka buatku membangun tembok dan menutup pintu adalah bentuk survival mode. Dan yeah paling tidak setahun dua kali mengunjungi terapis, to cope up with PTSD. Aku berusaha. Kita berusaha.

Selamat ulang tahun, Galuh.

 

 

 

Ilustrasi oleh Eilwa

 

 

 



2 thoughts on “33 Tahun & Privilese”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *