a blog by Galuh

a blog by Galuh

Out Of The Blue: Miranti Sejak Jadi Ibu

Out Of The Blue: Miranti Sejak Jadi Ibu

“You get a strange feeling when you’re about to leave a place. Like you’ll not only miss the people you love. But you’ll miss the person you are now at this time and place because you’ll never be this way again.” Azar Nafisi.

Kutipan tersebut mewakili perasaan sedih dan asing yang aneh saat 2001 pindah ke Jakarta. Karena persisnya, bukan orang atau tempat di Pontianak yang akan ditinggalkan. Tapi rindu pada ‘diri’ (self) di masa itu. Anehnya lagi, awal-awal duduk di SMA tiba-tiba ada remaja perempuan mendatangi saya di kelas. “Kamu Galuh, kan? Anaknya pak xxx. Aku Miranti, papamu dan papaku berteman waktu di Pontianak. Papaku xxx, dokter di kantor papamu.” Out of the blue.

Aneh sekali, baru beberapa hari jadi anak SMA, baru beberapa bulan di Jakarta, ada orang Pontianak menghampiri. Di kelas, satu sekolah, dan dia mengenaliku. Saat itu saya gak ingat sama sekali dia siapa. Yang samar-samar saya ingat, dulu ada anak perempuan, tengah malam terbangun karena kedatangan saya yang sedang panas tinggi ke rumahnya, mau berobat pada ayahnya. Namanya Miranti.

Miranti adalah salah satu stranger dalam hidup saya haha… Terasa dekat tapi ada rasa aneh yang sulit digambarkan dan sulit dijelaskan pada teman-teman lain di lingkaran kami. Short story say, saya dan Miranti berteman sejak SMA hingga sekarang ia tinggal di Jakarta dan bekerja di rumah membuat usaha kuliner. Saya bertanya beberapa hal pada Miranti tentang menjadi Ibu yang bekerja di rumah.

 

Miranti terakhir bekerja di kantor (orang) kapan dan di bidang apa?

Tahun 2013, bergerak di bidang konsultan ketenagaan kerja asing.

Apa yang bikin kamu memutuskan untuk berhenti mengantor?

Karena anak pertamaku (Aina) mau masuk TK. Aku pengen bisa anter-jemput dia ke sekolah. Kebetulan juga kami pindah rumah dan lokasinya lumayan jauh dari kantor.

Memulai usaha kuliner sejak kapan?

Tahun 2012 saat masih ngantor, aku bikin pancake duren dan ku-posting di Facebook, banyak yang nanya. Kata suami “coba aja jual!” Tadinya gak percaya diri karena baru pertama bikin, tapi begitu memberanikan diri untuk menjual pancake duren ternyata responnya bagus.

Di tahun yang sama aku bikin kue lebaran untuk di rumah, tapi coba ah dijual juga. Ngerjainnya cuma berdua sama mbak yg kerja di rumah. Alhamdulillah penjualan pertama mencapai 120 toples walau pun habis itu tepar, hahaha… Tapi rasanya puas banget. Tahun selanjutnya nambah pasukan untuk bikin kue. Alhamdulilah bisa bikin 300, 400 sampai 500 toples.

Di 2017 aku coba jual Dendeng dan Sambal Goreng Ati secara online. Orderan pertama berhasil memasak 7 kg dendeng & 3 kg sambal goreng ati. Sempat keteteran karena cabenya kan diulek dan untuk pertama kali masak banyak, jadi riweuh banget. Tapi lambat laun setelah mengatur ritme, bisa juga terkoordinasi dengan baik.

Dari awalnya cuma 2 menu (Dendeng & Sambal Goreng Ati), aku coba bikin menu lain yaitu Cumi Asin Cabe Ijo. Awalnya rasanya biasa banget. Ditambah ini itu, eh jadi salah satu menu favorit juga di Dapur Bunda Mir2. Lalu coba iseng bikin Ikan Suwir, resepnya pun ga cari di mana-mana, bener-bener resep coba-coba sendiri. Alhamdulillah responnya bagus. Orang bolak balik pesan Ikan Suwir Pedas.

Kemudian aku tambah menu Udang Balado Petai. Kebetulan ada orderan dari sebuah kantor di Jakarta, minta pakai nasi. Akhirnya aku coba packaging dengan bowl. Ternyata menarik dan kayaknya sekarang banjir deh produk makanan pake bowl. Terus coba masukin ke gofood, Alhamdulillah sekarang Dapur Bunda Mir2 sudah ada di Gofood 😊

Oya, tahun 2015 sempat jualan cupcakes juga. Tadinya cuma bikin untuk Aina, ternyata banyak yang tanya dan katanya enak. Tapi bikin cake itu harus telaten, aku lebih nyaman bikin masakan rumah. Akhirnya cupcakes ga kepegang, paling sesekali kalau ada teman atau sodara yg pesan baru aku bikinin.

Menu unggulan Dapur Bunda Mir2 apa saja? Resepnya olah sendiri atau diajarkan oleh orangtua?

Hampir semua menu Dapur Bunda Mir2 responnya baik. Yang order pasti balik order lagi. Penjualan juga hampir sama semua load-nya. Kalo dendeng dan sambal goreng ati resep dari mertua, kalau menu lainnya resep aku olah sendiri.

Apa susahnya bekerja dan membangun usaha di rumah?

Susahnya karena harus kejar-kejaran waktu antara urus usaha dan antar jemput 2 anak yang sekolahnya beda arah. Dan mengatur waktu kosong untuk open pre order.

Ada kepengenan ngantor lagi gak?

Sama sekali gak pengen. Alhamdulillah usaha sendiri dari rumah rasanya lebih fleksibel buat atur waktu. Usaha jalan, anak-anak pun kepegang.

Sudah merambah konsumen di luar kota Jakarta?

Belum, konsumen masih dari Jakarta aja karena belum berani kirim-kirim. Paling kalo ada yg mau bawa naik pesawat okelah. Alhamdulillah, menu-menu Dapur Bunda Mir2 udah dibawa sama konsumen sampai Paris, Dubai, Cina, Vietnam dan Singapura.

Omset saat musim lebaran bagaimana?

Saat lebaran omset bisa 2 kali lipat dari biasanya.

Cita-citanya ke depan apa? Sesuatu yang belum kesampaian dan diimpikan sejak lama.

Mudah-mudahanan penjualan Dapur Bunda Mir2 bisa semakin luas, dan pengen punya store atau restoran.

Lalu yang terakhir, apakah seluruh keluarga mendukung usaha Miranti di bidang kuliner ini?

Alhamdulillah, karena ada support dari suamilah aku memberanikan diri untuk bisnis kuliner. Dari keluargaku gak ada yang berlatar belakang usaha, Mamaku juga awalnya pesimis, sampai-sampai menawarkan untuk kuliah lagi supaya jadi dosen seperti Mama. Hehe… Bismillah, dengan dukungan besar dari suami dan mungkin karena Ibu mertua juga berpengalaman usaha catering, jadi dia bisa paham. Apa pun ideku untuk usaha, suami selalu semangat menyumbangkan ide. Jadi aku benar-benar merasa bersyukur punya suami yang bisa mengerti dan mendukung semua yang kukerjakan. Mama pun lama-lama akhirnya memberikan dukungannya buatku. Terima kasih buat ayahnya anak-anak ❤

 

 

 

 

 

 



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *