a blog by Galuh

a blog by Galuh

Safa Merantau ke Norwegia

Safa Merantau ke Norwegia

Tulisan: Safrini Malahayati

Suntingan: Galuh Pangestri

 

Saat Safa (Safrini Malahayati) menceritakan niatnya pindah ke Norwegia, saya dan teman-teman terbelalak. Pindah ke negara Eropa lain seperti Belanda, Perancis, Spanyol, Belgia, Inggris masih kebayang. Ini ke negara Skandinavia, ada apa di sana? Tinggal sama siapa? Bisa bahasanya? Kalau terjadi apa-apa yang tidak diinginkan bisa minta bantuan ke siapa? Kami kuatir. Tapi Safa akhirnya membuktikan bahwa ia bertanggungjawab dan keinginannya bukan dorongan impulsif semata tanpa perhitungan. Sudah hampir sembilan tahun ia tinggal di Norwegia dan sempat merasakan tinggal di beberapa kota berbeda: Kristiansand, Oslo, dan sekarang di Bergen. Di sini Safa menuliskan pengalamannya hidup di Norwegia, beradaptasi, menjalani puasa dan lebaran, sampai dengan proses bertemu dengan suami.

 

Pindah ke Norwegia via Au Pair

Saya mendapat undangan untuk belajar budaya Norwegia lewat jalur Au Pair. Dalam bahasa Perancis au pair artinya setara, status untuk seseorang yang membantu pekerjaan domestik rumah tangga. Kesetaraan ini membuat seorang au pair dianggap sebagai bagian dari keluarga karena menjaga anak-anak, bukan pekerja domestik semata. Di negara Eropa dan Amerika, au pair merupakan program untuk anak muda <29 tahun yang ingin mempelajari kebudayaan dengan fokus mempelajari bahasa asing negara tujuan. Host family akan menyediakan tempat tinggal, makan, kebutuhan logistik, asuransi kesehatan, uang saku, terkadang tiket PP, dan tentunya les bahasa gratis. Sebagai timbal baliknya seorang au pair bertugas sebagai asisten rumah tangga sekaligus sisterhood di antara anak-anak host family. Membantu anak-anak di rumah untuk urusan keseharian, pelajaran, dan juga pekerjaan ringan rumah tangga lainnya, sekitar 5 jam per hari.

Saya punya keinginan dan mimpi untuk sekolah di luar negeri. Masa itu, Facebook menjadi jejaring sosial yang intens digunakan untuk bermediasi dengan mbak Retno, calon host-family saya di Norwegia. Mbak Retno dan keluarganya memberi inspirasi sekaligus kesempatan untuk saya mencoba Norwegia lewat jalur au pair dan dengan sabar ikut membantu mempersiapkan keberangkatan.

Terus terang saya tidak tahu banyak tentang Norwegia, pun tidak pernah bermimpi untuk tinggal di sana. Sedikit yang saya ketahui karena hobi nonton sepak bola Liga Inggris, tahu kalau Ole Gunnar Solskjær itu orang Norwegia. Atau pernak-pernik boneka troll yang lucu dengan mata besar, kaki pendek dan rambut warna-warni kepunyaan teman SD. Suvenir troll itu mereka dapatkan dari orang tua atau sanak saudara yang bepergian ke negara Skandinavia. Saat SMP, duo indie band asal Norwegia, Kings of Convenience, kerap diputar radio Prambors. Itu saja Norwegia yang saya tahu.

Mendekati kelulusan kuliah, saya sangat ingin menentukan pilihan hidup sendiri. Saya gemar traveling dan pernah belajar beberapa bahasa asing (Jerman, Jepang, Portugis, Perancis) namun merasa tidak pernah “naik kelas” karena tidak berkesempatan belajar langsung dengan native atau tak berpengalaman tinggal di negara yang ingin saya pelajari itu. Saat kesempatan datang di depan mata, tak bisa tak diacuhkan. Awalnya keluarga menentang keputusan saya ini. Setelah berbicara panjang lebar, berargumen yang kadang terselip emosi, akhirnya almarhumah Ibu, Ayah, dan kakak dapat menerima. Dan almarhumah Ibulah yang menjadi pusat kekuatan doa dan semangat saya di perantauan hingga saat ini.

 

Proses Adaptasi

Kristiansand, kota tempat tinggal host family saya bukanlah kota yang mudah apa lagi kalau sudah terbiasa tinggal di Jakarta yang ramai hingar bingar. Penduduk kota Kristiansand hanya sekitar 80.000-an jiwa. Proses adaptasi tidak berjalan lurus-lurus saja, ada fluktuasinya.

Salah satu aspek dalam proses adaptasi adalah melalui makanan. Saya selalu mengincar ikan salmon karena Norwegia adalah salah satu negara penghasil ikan salmon terbesar di dunia, selalu ada stok di supermarket setempat. Soal bumbu, tidak bisa dibandingkan dengan bumbu rempah Indonesia, garam dan lada hitam lumrah digunakan untuk membumbui segala hidangan. Beruntung saya tinggal dengan mbak Retno yang kemampuan kuliner Indonesianya patut diacungi jempol. Jadi sepuluh bulan di Kristiansand saya tidak terlalu homesick masakan Indonesia.

Masakan khas Norwegia pertama yang saya cicipi adalah Pinnekjøtt (e dibaca seperti e dalam kata nestapa, lalu huruf k ketemu j dibaca mendesis c seperti kata ceu dalam bahasa Sunda, huruf Ø dibaca hampir sama dengan e dalam kata nestapa, namun tak mengambang), daging domba yang diasinkan dan dikeringkan. Merupakan salah satu menu favorit penduduk Norwegia di musim dingin. Pinnekjøtt disajikan dengan mashed rutabaga dan wortel, kentang rebus, bisa juga dengan hidangan sosis. Disantap dengan nasi hangat dan sambal juga enak loh! Asal jangan sampai orang Norwegia tahu, bisa malu saya 😀

Pinekjott, daging domba yang diasinkan dan dikeringkan. Makanan favorit saat malam Natal dan tahun baru di Norwegia.

Iklim dingin dan empat musim yang silih berganti setiap tahun membuat adaptasi awal cukup rumit. Udara dingin dan kering membuat kulit cepat bersisik sampai ketombe sering muncul. Pakaian hangat berbahan wool dan jaket tebal wajib ada. Perlengkapan penghangat seperti sarung tangan, topi kupluk, kaos kaki, juga sangat penting. Tak kalah pentingnya winter boots dengan spikes perlu digunakan jika salju turun lebat sekali. Survival kit ini krusial banget selama musim dingin di sini. Aktivitas musim dingin yang paling populer adalah bermain ski, baik cross country mau pun downhillHost family berbaik hati memberikan saya pengalaman mencoba kedua jenis ski ini di musim dingin pertama.

Mencoba bermain ski untuk pertama kali di Ski Resort Bortelid, Norwegia Selatan.

Sekolah dan Bekerja Lagi

Setelah sekitar 10 bulan berstatus au pair, saya melanjutkan sekolah dengan masuk kuliah satu tahun di jurusan Event and Culture Planning di Community College Danvik yang juga boarding school di kota Drammen, sekitar 30 menit naik kereta dari kota Oslo. Sambil kuliah saya tetap belajar bahasa Norwegia untuk mengambil tes bahasa Norwegia agar dapat mengambil kuliah program master di tahun berikutnya. Karena biaya kuliah di community college ini biaya mandiri, bekerja part time sore/malam hari di restoran menjadi pilihan yang paling memungkinkan. Saya mengikuti tes Toefl dan tes kemampuan bahasa Norwegia Trinn 3. Hasil tes bahasa Inggris dan Norwegia membuat saya berpeluang mencoba berbagai program studi yang lebih luas.

Di tahun ajaran 2013 saya masuk kuliah program master Museologi di Universitas Oslo. Universitas Oslo ini biaya per semesternya tidak mahal, sekitar 550 NK. Saat itu saya membayar biaya administrasi akademiknya saja, atau hampir setara Rp. 1.000.000. Namun, biaya hidup kost dan makan yang mahal. Saya kemudian bekerja part time sebagai sandwich maker, barista, sampai interpreter juga pernah. Saya mendapat banyak ilmu dan praktik kerja di beberapa museum di kota Oslo dan juga bekerja selama musim panas 2017 di Museum Turisme Norwegia di desa cantik, Balestrand, Sogn og Fjordane.

Setelah pindah ke Oslo dan berstatus mahasiswa di negeri orang, terjadi banyak penyesuaian baru. Cari teman baru, menyesuaikan tugas kuliah dan kerja part time, juga tak kalah penting mencari toko bahan makanan buat kebutuhan memasak masakan khas tanah air. Semenjak tinggal di Oslo, memasak menjadi bentuk terapi yang merepotkan namun menyenangkan. Teringat waktu kuliah S1 di Depok selalu makan di kantin atau tempat makan, sementara selama kuliah S2 harus masak sendiri. Alhasil jadi gak ngoyo dan sering bersyukur karena satu dua macam makanan saja cukup seperti sayur sop dan telur balado, atau saat ketemu tempe dan kemangi lalu buat sambal penyet tempe dengan nasi hangat.

Waktu kuliah S2 inilah waktu yang asik buat bergaul dengan teman-teman baru baik di jurusan saya, mau pun sesama mahasiswa Indonesia di kota Oslo yang kala itu tidak terlalu banyak. Beruntung saya bertemu mahasiswa dan beberapa mahasiswa exchange (hanya 1-2 semester). Walau kurang dari 10 orang mahasiswa Indonesia di tahun ajaran saat itu tidak membuat sepi suasana. Sebagai perwakilan mahasiswa Indonesia di kota Oslo, seorang kawan memprakarsai ide pembentukan PPI Oslo. PPI Norwegia berbasis di kota Trondheim karena jumlah mahasiswa Indonesia paling banyak di kota tersebut. Sebagai bagian dari PPI Norwegia, PPI Oslo berfungsi memberikan informasi dan bantuan yang diperlukan bagi para mahasiswa Indonesia baru di kota ini. Bantuan bersifat praktis seperti mendistribusikan barang-barang yang ditinggalkan oleh eks mahasiswa untuk dapat digunakan oleh mahasiswa baru. Atau dalam hal penyebaran informasi dan komunikasi yang bekerja sama dengan pihak KBRI ataupun pemerintah instansi setempat. Dengan sifat kekeluargaan khas Indonesia, diharapkan PPI Oslo dapat menjadi wadah yang nyaman untuk berkumpul, berpendapat, saling menghormati sesama anak bangsa yang tengah belajar di negeri orang.

Bersama Menteri Luar Negeri RI Retno Marsudi di KBRI Norwegia dan Islandia, Oslo, 2015. Foto: Valentino Malaiholo

Dalam beberapa kesempatan, saya bersyukur mendapat undangan menari untuk publik lewat kerja sama dengan Kedutaan Besar RI di kota Oslo maupun dengan antar warga Indonesia di Norwegia. Senang sekali bisa berbagi materi tari kepada teman-teman yang ingin belajar ragam tarian tradisi Indonesia. Sebagai penari yang aktif sejak masa sekolah dan kuliah, menari selalu menjadi bagian penting dalam ritme hidup saya.

Menari Topeng tunggal Betawi dalam acara ASEAN Cultural Night mewakili Indonesia, KBRI Oslo, 06-10-2015

 

Menari tarian Melayu di acara Indonesian Culture Night gagasan teman-teman PPI Trondheim 04-03-2017. Turut menghadirkan Audun, penyanyi yang terkenal dengan lagu Nasi Padang, ia berasal dari kota Trondheim.

Bertemu Jodoh

Tinggal di kota Oslo lima tahun lamanya memberi banyak inspirasi dan pengalaman hidup berharga. Modal nekat dan tekad kuat plus restu orang tua tercinta saya yakini memberkati perjalanan hidup saya di sini. Hampir setiap pekan saya rajin telepon ke rumah, rasa syukur dan doa tak henti-henti untuk setiap orang baik yang ditemui selama perjalanan saya di negeri ini. Lewat merekalah, semangat dan inspirasi baik mengalir untuk saya.

Salah satunya saat dipertemukan dengan teman (hidup) yang juga pandai berbahasa Indonesia. Dag adalah lelaki yang membuat hidup saya lebih ceria dan berwarna dalam rasa keterasingan di negeri Aurora Borealis ini. Pertemanan kami berawal dari satu komunitas traveling, yang kemudian berlanjut menjadi language swap partner karena kami berdua ingin belajar bahasa masing-masing. Dag sudah pernah belajar Bahasa Indonesia dasar saat dia kuliah dulu, mengaku gemar belajar bahasa asing dan ingin menjadi seorang poliglot. Pilihan Bahasa Indonesia jatuh karena awalnya ia membantu mahasiswa baru di masa orientasi sebagai pendamping, hal yang lazim dilakukan mahasiswa senior yang aktif di organisasi kemahasiswaan pada masa orientasi mahasiswa baru. Dag kebetulan membantu satu mahasiswa dari Malaysia. Setelah mendapat informasi kalau bahasa Malaysia mirip Bahasa Indonesia (seperti halnya Bahasa Swedia dan Norwegia), Dag mencari tahu informasi termasuk sejarah kedua negara tesebut, lalu memutuskan mendalami Bahasa Indonesia secara otodidak. Indonesia menurutnya lebih menarik dari semua segi, terutama geopolitik, sejarah masyarakat dan budayanya. Saya takjub sendiri karena dia sampai mengambil kursus online di website Italki.com yang berbayar, dengan memakai jasa tutor lokal via skype saat masih kuliah dulu. Beberapa tutor lokal didapat, namun yang berkesan adalah mas Andreas dari Magelang, yang menurut Dag, Bahasa Inggrisnya sangat bagus dan juga mengajarkan Bahasa Indonesia dengan baik dan mudah dimengerti. Di kali pertama Dag berkunjung ke Indonesia tahun 2013, kami berkunjung ke Magelang bertemu mas Andreas dan siapa sangka pria berpenampilan sederhana itu adalah juragan getuk lokal dan menjadi tutor berbayar di situs belajar bahasa Italki.com sebagai hobi disamping kesibukannnya memimpin banyak toko oleh-oleh milik keluarga. Salut!

Sebagai teman yang sama-sama belajar bahasa masing-masing terbentuklah rasa pengertian, menghormati satu sama lain dan kasih sayang berkembang dengan manisnya, hehe… Kami lalu sepakat untuk melanjutkan hubungan lebih serius. Tahun 2017 Dag meminta izin ke Ayah dan Ibu untuk menikah dengan saya. Tanggal 21 Februari 2018 akhirnya kami resmi menikah di KUA Pulo Gadung, Sah! 😉

Alhamdulillah, rasa kangen Indonesia kadang tidak terlalu terasa karena suami saya selalu update dengan kabar berita dari Indonesia. Malah seringnya dia lebih tahu duluan dibanding saya, karena ia rajin menonton live streaming atau pun Youtube channel berita atau traveling dan kuliner tanah air. Bahasa Indonesia menjadi bahasa sehari-hari karena suami semakin lancar, walau saya suka geregetan ingin makin fasih bahasa Norwegia, dan harus ngomel dulu buat dia swap ke bahasa Norwegia saat berbicara bersama.

 

Berpuasa di Norwegia

Waktu puasa di Norwegia tidak sama dengan di Indonesia yang mataharinya terbit dan tenggelam begitu jelas. Saat musim panas di Norwegia (Mei-Agustus), matahari terbit sangatlah panjang. Terlebih bagi mereka yang tinggal di bagian utara Norwegia, seperti kota Tromsø, Bodø dan sekitarnya, matahari tidak benar-benar tenggelam. Di Norwegia dan negara-negara Nordik, fenomena alam matahari tidak terbenam disebut Midnight Sun, bahkan di kepulauan Svalbard, luar utara Norwegia, fenomena ini bisa berlangsung berbulan-bulan. Nah, terus bagaimana waktu puasanya? Dari awal pindah saya sering bertanya kepada beberapa masyarakat Indonesia senior dan selalu menjalankan puasa di bulan Ramadhan. Di samping itu, mencari referensi sumber dari beberapa organisasi Islam dan mesjid di kota Oslo. Ada yang mengikuti waktu Mekkah, atau juga Indonesia, ada yang mengikuti gerak matahari setempat dengan waktu puasa yang bisa sampai 17-18 jam lamanya. Jadi, cukup beragam tafsiran waktu berpuasanya. Ini yang menarik buat saya, dengan penduduk muslim yang berasal dari berbagai belahan dunia, Islam di Norwegia berkembang cukup dinamis. Pemerintah Norwegia yang sekuler menjamin setiap penduduknya untuk dapat memeluk dan menjalankan ibadah menurut kepercayaan masing-masing. Perbedaan waktu puasa bisa saja diperdebatkan, namun buat saya keikhlasan pemeluknya adalah yang utama untuk beribadah kepada-Nya.

Setelah mencari informasi dan fatwa ulama (yang memang juga beragam) tentang waktu berpuasa di negara-negara yang memiliki ketinggian latitude diatas 50° Lintang Utara ini, saya mengikuti jadwal beribadah di bulan Ramadhan berdasarkan ketetapan dari organisasi muslim Denmark di website http://prayertimes.dk/ dengan lama puasa sekitar 14-15 jam.

Yang paling dikangenin saat Ramadhan ya waktu ngabuburit beli takjil di pasar, juga solat tarawih berjamaah. Maklum kan di Indonesia berbagai kreasi kuliner lezat terhampar luas. Di sini buat satu macam takjil saja sudah syukur alhamdulillah.

Saya dan suami kemudian pindah ke kota Bergen. Suami sudah akrab dengan kota ini sejak dulu berkuliah di Universitas Bergen, saya sendiri makin menikmati karena kota Bergen terletak di dekat fjord Barat Norwegia yang terkenal magis dan cantik. Terlebih pusat kota ini dekat dengan alam pegunungan, ada 7 gunung terkenal yang menjadi tujuan tur wisata setempat. Kami yang tinggal di pusat kota tapi suka jalan-jalan alam dan hobi lari bareng makin kerasan tinggal di kota yang menjadi salah satu destinasi utama Norwegia ini.

Panorama dari Mt. Floyen, salah satu gunung dekat tempat tinggal kami di Bergen. Tampak mendung, Bergen dikenal sebagai kota hujan.

Saat kondisi normal, buka puasa bersama dengan warga Indonesia diadakan hampir tiap minggu. Saat baru pindah ke Bergen, mendapat undangan buka puasa bersama itu nikmat sekali rasanya. Dengan sistem potluck, tiap undangan membawa lauk pauk untuk dibagi bersama, membuat acara buka puasa makin hangat. Serunya saat menentukan menu bersama, misal buka puasa sebelumnya dengan nasi kebuli, menu seafood, udang panggang, ikan bakar, dsb, minggu terakhir di tempat kami menunya lontong sayur sesuai permintaan. Mungkin sudah gak sabar dengan menu gurih santan khas hari Lebaran ya! Akan tetapi puasa tahun ini berbeda sekali rasanya karena harus physical distancing akibat wabah virus Corona.

Sajian hidangan khas bulan puasa.

 

Suasana potluck buka puasa bersama di rumah salah satu teman warga negara Indonesia di Bergen.

 

Lebaran di Bergen

Lebaran tahun ini akan menjadi lebaran ketiga saya di kota Bergen. Yang pertama saya rayakan bersama suami sederhana saja, waktu itu kami sedang suka veggie burger berbahan utama daun bayam yang ditambah dengan keju cheddar. Perayaan Idul Fitri di KBRI Oslo seringkali ditunggu-tunggu, biasanya saya menyempatkan bersilaturahmi dengan sesama warga Indonesia di Wisma Duta KBRI di kota Oslo. Perayaan lebaran dengan berkumpul selalu dinanti-nanti apa lagi sambil menyantap kuliner khas Lebaran: ketupat, opor, rendang, lontong sayur, semua disajikan lezat oleh tim kuliner KBRI. Setelah pindah ke Bergen, saya harus merelakan acara gathering dan pertemuan/seminar dari KBRI karena jarak luar kota dan waktu yang tidak lagi fleksibel. Namun, ini tidak membuat saya sedih karena jalinan silahturahmi warga Indonesia di kota Bergen juga cukup kompak. Yang bikin kangen lebaran pastinya kumpul sama keluarga dan sanak saudara di Indonesia. Lebaran tahun ini terasa lebih berat karena Bucin (ibu tercinta) kami telah tiada, dan situasi dunia sedang dilanda wabah menyebabkan mobilitas harus dikurangi.

 

Burger sayur bikinan sendiri.

 

Lontong opor, santapan mewah tiap perantau.

 

 

Foto-foto: dokumentasi pribadi Safa

 

 



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *