a blog by Galuh

a blog by Galuh

Nastar Keranjang

Nastar Keranjang

Bosan. Satu dari sekian ratus juta orang yang kebosanan selama masa pandemi ada di laman ini.

Membereskan rumah, decluttering, menambahkan bunga-bunga kering dan basah untuk menambah aksen ruangan, memasak, menari, menulis, nonton drama Korea, bertinju. Aku merasa sudah melakukan apa yang bisa dilakukan selama karantina di rumah. Tapi tetap saja merasa bosan.

Mungkin, itu berarti yang telah dilakukan belumlah sudah.

Selama pandemi, tiba-tiba beberapa hal terkuak begitu juga dengan kemampuan memasak. Aku memasak hal-hal yang belum pernah dimasak sebelumnya seperti peyek, cendol, candil, sponge cake, ketimus, donat. Susah juga masak peyek heloooo…

Memasak itu menyenangkan tapi juga bikin capek. Capek nyiapin, capek masaknya, capek membersihkannya. Capek pula kalo gak habis dimakan, lebih capek lagi kalo udah masak banyak eh orang rumah berinisiatif buat jajan di luar ngegofood martabak atau surabi.

Yang bikin senang salah satunya karena anakku senang masak-masakan. Karena itu aku meng-encourage diri sendiri untuk semangat memasak demi anak dapat belajar banyak dari dapur. Senang sekali rasanya saat dia bertanya apa bedanya lengkuas dan jahe. Suatu saat akan kuceritakan tentang sejarah 350 tahun penjajahan VOC di Hindia lewat bumbu-bumbu dapur. Hoyaaaa!!!

Sering kali kita take for granted masakan Ibu seolah-olah itu hal yang sudah seharusnya dilakukan seorang Ibu dan lupa berterimakasih. Kadang-kadang aku capek dan bosan masak, tapi kuingat-ingat lagi bahwa salah satu yang paling kuingat dari Ibuku adalah masakannya. Sebetulnya aku ga yakin amat masakanku enak, tapi anakku pernah berterimakasih dan memuji. Apakah di masa depan dia akan mengasosiasikan masakan dengan Ibunya? Apakah dia akan mengingatku salah satunya dengan kegiatan yang kami lakukan bersama di dapur?

Tapi tetap saja aku merasa B apa lagi kalau membandingkan diri dengan orang lain atau emak sendiri dalam soal masak-memasak. Gak yakin juga suami suka dengan apa yang kumasak karena ya itu, kalau urusan makan yang paling kuingat adalah makanan yang dimasak Ibuku, bisa jadi demikian juga dengannya. Namanya makanan ya masakan Ibunya.

Ngomong-ngomong masakan Ibu, sekarang sudah bulan puasa. Biasanya orang-orang sangat sibuk berjualan, berdagang, demi menyiapkan hari raya. Lebaran 2020 akan sangat berbeda karena pandemi menyebabkan mobilitas silaturahmi harus ditahan. Tapi bolehlah menyiapkan setoples dua toples kue kering di rumah sebagai pemanis suasana pahit belakangan ini. Kalian rencananya menyediakan kue apa di rumah? Kalau aku biasanya nastar.

Di dapur Ibuku dulu, sehari-harinya kami anak-anak jarang sekali boleh membantu. Risih, kotor, ga beres, jadi ribet katanya. Intinya dia ingin punya area konsentrasi sendiri dan dapur adalah teritorinya. Justru saat lebaranlah kesempatan kami ikut sibuk-sibuk membantu saking banyaknya kue yang dibikin, tenaga Ibu tak bisa menanganinya sendiri. Salah satu yang unik adalah kue nastar yang ia bikin.

Dalam ilmu boga ada pengetahuan tentang asal usul bentuk makanan. Mengapa lemper bentuknya seperti itu, kenapa lupis dibentuk bulat atau segitiga kenapa ga kotak, ini sesuatu yang jadi kelakar tak terpahami oleh suami Ibuku. Suatu waktu saat kami sedang mencetak kue-kue lebaran tiba-tiba datang Bapak bertanya, “ngapain sih dibentuk kecil-kecil begitu, toh waktu dimakan sama aja isinya, di perut juga sama aja. Kenapa ga langsung dibikin gede supaya makannya puas…” Ibuku punya jawabannya, tapi dia tidak terlatih untuk dapat men-deliver jawaban dengan bulat.

Kue nastar bikinan Ibuku cantik sekali, kami menyebutnya nastar keranjang, karena bentuknya memang kayak keranjang mini. Pertama bikin adonan, lalu adonan dimasukkan ke cetakan keranjang, lalu dibuatlah tali keranjang mini. Selanjutnya membuat selai nanas, dan membentuknya jadi bulat-bulat sebesar kelereng. Dari tahun ke tahun nastar yang kukenal berbentuk keranjang, bukan bulat seperti pada umumnya.

Kemampuan memasak kue-kue ini entah bagaimana ceritanya menurun ke adikku. Sejak tinggal di Bandung ia senang mengolah desserts, dari cheesecake, brownies, churros, dan setiap bulan Ramadhan sibuk membuat kue kering. Tak ada yang membantunya, semua dia kerjakan sendiri. Sungguh ketelatenan yang luar biasa. Terpujilah orang-orang yang senang memasak, tingkat kesabarannya tak kalah dari Yesus yang luka dan lelah namun tetap yakin umatnya akan menuai nikmat dari kebaikan yang dipupuk bersama waktu. Iya bikin kue kering itu lama.

Mengamati dan melakukan, mungkin itu ya dua hal pertama yang dialami oleh orang-orang yang kemudian tekun memasak. Sejak coba-coba mengolah desserts, adikku pun membuat merk sendiri untuk desserts yang ia bikin. Namanya Mariposa’s Desserts. Mari-mari dipesan kuenya ke Mariposa’s Desserts.

 

 

Foto-foto oleh Anggun Putri

 

 

 



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *