is in the house

Sisters in Danger

Sisters in Danger

Persis setahun lalu, beberapa teman meneruskan pengumuman yang dibuat Sisters in Danger (SiD) kepada saya. Memposisikan diri sebagai band yang mengkampanyekan anti kekerasan terhadap perempuan dan anak-anak, SiD membutuhkan relawan penari yang mau terlibat untuk videoklip single “16 Oranges”. Lagu ini diciptakan SiD dibantu violis Ammy Kurniawan untuk nuansa musik tradisionalnya, dan diikutkan dalam kompetisi musik yang diadakan oleh UN Women.

Membaca misi band ini dibentuk, tentu saya (dan dua teman penari lainnya: Nana dan Sasqi) menyanggupi. Selain ide bahwa menjadi bagian dari sesuatu yang baru tumbuh itu manis sekali, kerja sama yang saat itu dilakukan berlangsung lancar. Saya, Nana dan Sasqi bahkan memplesetkan dan seolah-olah menamai penari yang bertiga ini sebagai Sisters in Hunger. Haha.

Desember 2017 SiD mengajak Sisters in Hunger (haha…) bertemu kembali dalam acara yang diadakan di UIN Bandung. Di situ saya menyimak bagaimana format pertunjukan dengan istilah diskusi musikal dilakukan. Dan sungguh impresif, karena sebagai satu bentuk cara berkampanye dengan menggunakan musik sebagai instrumennya, yang ini “kena”. Dari sedikit sekali hal yang bisa dilakukan untuk ikut berpartisipasi dalam isu anti kekerasan, saya mencoba bertanya lebih dalam apa itu Sisters in Danger, mau apa mereka ini? Berikut ini obrolan bersama Berkah Gamulya, multi talenan-nya Sisters in Danger 😀

Bagaimana mulanya menggunakan musik sebagai media untuk kampanye sosial?

Tahun 2010 aku dan beberapa teman yang sudah saling kenal sejak kuliah ingin kampanye ke sekolah-sekolah. Bentuknya bukan penyuluhan biasa tapi dengan diskusi musikal. Kami melakukan open call, undangan berkumpul buat anak-anak band melalui media sosial, mayoritas lewat Facebook.

Agak ambisius, ingin memperingati 82 tahun Sumpah Pemuda dengan 82 kali diskusi musikal non stop setiap hari di sekolah-sekolah, kampus, pesantren sekitar Jabodetabek dan Lampung.

Siapa yang mendukung kalian melakukan konser keliling waktu itu?

Fundraising, banyak kawan-kawan aktivis, LSM, perusahaan, yang membantu dana. Sedangkan untuk band-nya, tidak semua yang diundang sanggup terlibat sebagai sindikat. Bahkan ada yang dari awal ikut pertemuan akhirnya sama sekali gak bisa. Singkatnya, anak band kan butuh panggung, ini disiapin panggungnya, audiensnya, tinggal main selama 82 hari. Gak ada duitnya, tapi mungkin bisa masuk berita, mungkin bisa masuk TV, bisa masuk koran, tapi yang pasti ada penonton. Akhirnya 5 band, 6 beat boxer, beberapa solois. Aku presentasi tentang global warming. Seorang teman eksperimen keranjang takakura untuk menyitir pengelolaan sampah. Lumayan sukses, tercatat rekor MURI. Tapi gila capeknya, 3 bulan lebih setiap hari.

Bagaimana ceritanya concern terhadap isu perempuan?

Akhir 2012 membaca kasus di New Delhi, seorang mahasiswi yang diperkosa 20 orang di bis. Itulah pertama kali aku tahu gang rape. Selama ini tahunya pemerkosaan itu cuma satu laki-laki satu perempuan. Di situ kaget. Tiga minggu setelah itu, Januari, anak kecil usia 5 tahun di Utan Kayu, Jakarta Timur jadi korban. Sebelumnya diduga dilakukan pamannya, tapi ternyata oleh bapaknya. Pertama kali aku tahu orang terdekat bisa memperkosa anak sendiri, keponakan, cucu sendiri. Shock! Dan juga malu, karena baru tahu saat itu. Sudah tahu KDRT, tapi kekerasan seksual baru ngeh banget. Akhirnya riset sendiri dan menemukan banyak jenis kekerasan seksual lainnya. Lalu aku mencoba bikin lirik, teman-teman bikin lagu. Cocok. Jadiin. Gak cocok, ganti cari lagi.

Merespon kasus di New Delhi dan Utan Kayu itulah, lagu “Sisters in Danger” dibuat sebagai tribut korban kekerasan seksual di Indonesia dan seluruh dunia. Dapat sambutan cukup luas mungkin karena gak ada atau gak banyak band yang membawakan isu perempuan. Beberapa kawan bilang gak ada. Isu korupsi banyak, isu lingkungan banyak.

Dengan personil Sisters in Danger yang sekarang, sebelumnya sudah sering manggung bareng?

Sebelum SiD, aku membentuk band Simponi dulu di 2012. Jadi memang dinamika anak band kan terjadi. Yang gak sepenuhnya asyik, apalagi di isu seperti ini. Jangankan sama anak band yang laki-laki, sama perempuan saja belum tentu nyambung.

Kemudian kami (Simponi) gonta ganti personil, biasalah. Ya, ini band gak ada duitnya. Untung semua anggotanya single saat itu. Memang pengen perform. Pelan-pelan belajar, lewat diskusi dan macam-macam. Beberapa kali sempat diformalkan mengikuti pelatihan bersama Aliansi Laki-Laki Baru, dengan Komnas Perempuan. Dan pola manggung yang kami lakukan selalu dengan diskusi musikal.

Kalau boleh bilang, format konser dengan cara diskusi musikal ini pertama kali dilakukan di Indonesia, bahkan mungkin di dunia band.

Iya bagus, format main musik sambil menyisipkan presentasi. Lirik ditembak ke layar, bisa dinyanyikan bareng. Musiknya dapat, kampanyenya bisa masuk buat peserta yang hadir. Biasanya kan orasi.

Betul, orasi di tengah-tengah lagu. Ini kami panjangkan orasinya, menggunakan layar, pakai data, ada tanya jawab dan diskusi, bukan orasi lagi. Lagunya dibikin nyambung dengan presentasi sebelum atau sesudahnya.

Berkumpul bersama personil Sisters in Danger mulanya bagaimana?

Harus cerita band Simponi dulu kalau begitu. Aku tuh agak pemarah ya. Masalah begitu banyak dan kalau kita lelet sulit sekali. Pernah beberapa kali memecat personil karena masalah disiplin, karena perspektif yang gak nyambung-nyambung. Orang sudah diingatkan berkali-kali tapi kalau gak berubah ya susah. Mungkin ini jeleknya aku, padahal ini kan anak band, bukan aktivis. Sebenarnya harus lebih bersabar. Belum soal perspektif. Anak band godaannya banyak. Misalnya waktu kami kampanye anti korupsi, ya anak band mau korupsi apa, wong duitnya gak ada. Paling menghadapi soal ditilang polisi di jalan. Isu lingkungan? Minimal gak buang sampah sembarangan. Kalau merokok ya puntungnya dibuang di tempatnya. Tapi begitu masuk isu perempuan, susah jaga mulut dan perilaku laki-laki.

Ya ya, dunia band pula.

Yup, dunia band. Fans banyak, anak SMA atau SMP bahkan, jangankan main bagus, main jelek saja mereka teriak-teriak. Apa lagi main bagus, apa lagi pakai diskusi musikal. Nah, menjaga perspektif, menjaga mulut, menjaga hubungan mereka dengan pacarnya masing-masing, aku gak bisa gak masuk terlalu jauh. Bahkan mungkin gak bisa gak peduli. Tapi oke, ada masalah dibicarakan, ngomel ya iya. Lalu 2016 Simponi tur Eropa, tapi aku evaluasi ternyata kami tidak punya antusiasme yang sama selama di Eropa dan aku kesal. Kemudian merasa perlu udahan di Simponi.

Kayak yang, “mau ngapain lagi nih, ya?”

Mungkin ada bosan dan ini salahku juga. Akhirnya aku mundur dari Simponi. Gak enak juga. Saat itu aku sudah ngantor sejak 2014. Jadi begitu mundur, teman-teman lanjut, aku ngantor sajalah akhirnya. Tapi ternyata gak bisa begitu tok. Gak bisa diam saja. Terutama persoalan perempuan makin besar malahan. Masalah makin kompleks, fundamentalisme agama meningkat, itu pasti terkait.

Dan aku suka sekali dengan judul lagu Sisters in Danger itu. Akhirnya dipakai untuk bikin band dengan project baru. Inginnya personil perempuan semua dan aku jadi manajer di belakang layar. Gak mau di panggung ah. Tapi ternyata susah. Pertama waktu itu mencari musisi perempuan agak kesulitan, sekarang sudah kenal teman-teman ternyata banyak. Cari musisi perempuan gak mudah, apa lagi yang mau jadi aktifis. Lalu ingat sama JP (Millenix), drummer cilik di IMB.

Tadinya gak kenal sama sekali sama JP?

Gak kenal. Tapi dia kan terkenal, perempuan, main drum, dan selalu memasang poster saat main musik, “stop violence against children.” Umur 10 tahun di drumnya dipasang kampanye seperti itu. Wuih, ada ternyata drummer perempuan yang begitu, masih kecil lagi.

Terus aku tanya, JP ada gak temannya musisi perempuan yang kira-kira bisa gabung? Dia menyebut Qoqo (SHE). Ya sudah ketemu, anak Bandung ternyata. Sempat jadi pikiran, wah susah nih Bandung-Jakarta. Oke, gak ada pilihan dan Qoqo mau. Lalu Qoqo mengajak Arnie (SHE).

Lalu vokalisnya Gde Bagus. Aku sudah kenal ibunya duluan, waktu tur sama Simponi di Bali, ibunya yang atur. Aktifis perempuan di Bali. Terus beliau cerita kalau anaknya main musik juga. Anaknya ikut The Voice, vokalis dan bisa main gitar. Saat Gde Bagus ditanya tentu mau, wong ibunya aktifis. Terus Landi, temannya Simponi yang memang sering main di mana-mana dan jago. Jadilah Sisters in Danger sekitar Oktober-November 2016. Kemudian Desember 2016 dapat info kompetisi lagu yang diadakan oleh UN Women.

“16 Oranges”, single pertama Sisters in Danger memang dibuat untuk ikut kompetisi?

Ya, betul. Arnie mengajak Kang Ammy supaya terasa Indonesia-nya. Lalu butuh penari, bertemulah kita. Kemudian postang posting di media sosial, menginformasikan segala sesuatu tentang Sister in Danger, bahkan ngiklan.

Lambat laun Sisters in Danger ini inginnya gak cuma sekadar band. Bukan soal siapa, tapi soal apa. Siapa pun boleh pakai hashtag Sisters in Danger, bisa pakai lagunya Sisters in Danger. Mungkin ke depan personilnya bisa gonta ganti juga (Gde Bagus sudah diganti dengan Titi Joe), mungkin nanti aku cabut lagi, kita gak tahu. Pengennya sih, yah, muluk-muluk juga, tapi Sisters in Danger ini pengennya jadi gerakan.

Goals-nya bersama Sisters in Danger?

Didengar banyak orang, diundang, lagunya bagus, kita juga suka sama lagu sendiri, orang lain juga suka, langgeng. Tapi kalau antusiasme personilnya tidak sama ya bisa ada perubahan lagi, ganti personil atau aku cabut seperti dulu di Simponi. Anak band itu kalau pun gak jadi aktivis jalanan, minimal aktivis medsos-lah, masa cuma mau main musik doang. Popularitas itu harus digunakan untuk kebaikan, sayang kan follower medsos banyak tapi tidak digunakan untuk kampanye sosial. Tapi ya perspektifnya terhadap isu sosial yang diusung harus benar dulu.

Bikin diskusi musikal tapi jangan aku terus yang ngomong, yang lain juga. Karena aku gak mau pembicaranya dari luar. Misalnya seminar, oke jeda, band masuk, lagunya gak nyambung, musik cuma hiburan, aku gak mau. Diskusi musikal tidak seperti itu. Diskusi musikal pembicaranya harus anak band, yang [sayangnya] belum tercapai sepenuhnya. Formatnya kira-kira dua jam, lo mau main gitar atau instrumen apa pun, atau vokal, di jeda lagu lo ngomong. Idealnya begitu.

Ada satu band di Rantauprapat, Sumatera Utara yang sudah bikin tur diskusi musikal juga, band PMR. Dulu mereka lihat Simponi dua kali, minta bahan presentasi dan lagu, pakai saja. Yang penting kalau niatnya sudah ada kan bagus, kami fasilitasi saja dulu. Nyontek sama persis juga gak masalah, yang penting action dulu. Lalu pelan-pelan mereka bikin lagu sendiri, pelan-pelan mereka revisi presentasinya, disesuaikan dengan konteks tempat mereka manggung juga audiensnya. Itu saja sudah bikin hepi. Niatnya kan memang begitu, semakin banyak band yang melakukan diskusi musikal. Isunya bebas, yang penting sosial, dan buat kebaikan. Ada juga band Ranisakustik dan Nada Bicara di Jogja yang bikin semacam diskusi musikal, concern di isu perempuan. Kami pernah kumpul bersama, 14 band yang peduli dengan isu perempuan dan anak, difasilitasi Kementerian Perempuan dan Anak RI.

Yang sulit lagi adalah konsistensi. Lagu bisa bagus, skill bermusik oke, pesannya sampai. Lalu pulang diskusi musikal, pulang ngeband, apakah bisa konsisten terus? Isu sosial lain mungkin gampang, isu perempuan susah. Ini jadi pikiran juga. Apa lagi sekarang, ada istilah SJW, social justice warrior.

Melihat Sisters in Danger, juru bicaranya tuh ya Mas Mulya. Mungkin butuh personil lain untuk bicara melalui diskusi musikal. Tapi sebagai penonton aku melihatnya positif. Isu perempuan disuarakan laki-laki, dilihat dari luar itu nilai lebih. Kalau perempuan yang teriak-teriak gampang banget disepelekan. Dibilang ngomong kepentingan sendiri, distigma perempuan kurang seks, dikatain kurang orgasmelah. Jadi justru saat laki-laki yang bicara, menurutku itu baik sekali.

Itulah mengapa di 2013 Simponi lumayan dilihat, karena personilnya laki-laki semua. Nyanyi lagu Sisters in Danger dan lagu-lagu lainnya isu perempuan. Dan ini bagus, kami laki-laki, kami juga mengaku pernah ganggu perempuan, kami mengaku gak bisa bohong, karena tahu sama tahu. Jadi menarik karena ini testimoni kami sebagai laki-laki, pelaku dan mengaku. Mungkin tidak melakukan kekerasan seksual, tapi menggoda dan kelakuan minor yang tidak disadari pasti pernah dilakukan.

Satu sisi aku yakin itu tidak natural. Perkara laki-laki adalah the bad guy itu social construct. Tapi perempuan juga butuh laki-laki. Mau dan butuh, dalam aspek personal mau pun sosial, dalam usaha mengubah paradigma dan mind set. If you want to empower women, you need to educate the men too. Benar ga sih? Harusnya ya bergandengan tangan jika ingin menciptakan perubahan, laki-laki dan perempuan bersama-sama.

Ya, ya, setuju. Karena laki-laki pada dasarnya diajarkan untuk melakukan kekerasan oleh lingkungan. Berarti kan bisa juga diajarkan untuk tidak melakukan kekerasan.

Oke mungkin mereka pelaku, mereka salah, mungkin juga tidak paham. Dan itu pekerjaan panjang mengubah keadaan. Ideal sekali, tapi kita memang butuh kondisi yang lebih baik. Dibilang cita-cita yang muluk-muluk ya gak juga karena riil.

Dan teman-teman LSM jaringan perempuan, Komnas Perempuan, dan lainnya se-Indonesia hepi banget dengan Simponi. Mereka semacam dapat teman baru, laki-laki, anak band yang bisa mereka ajak kampanye di mana-mana, jadi bagus. Kemudian kenal sama teman-teman Aliansi Laki-Laki Baru dan yang lainnya. Kemudian kami belajar macam-macam, untuk advokasi bagus.

Mereka juga provide data?

Ya, kalau butuh data terbaru kami dikasih. Akhirnya saling dukung. Dan aku di internal Sisters in Danger juga masih belajar. Gak berani juga mengklaim sebagai feminis. Oke mungkin male-feminist, atau feminist-ally. Ke sini-sininya belajar juga, harus hati-hati. Dan ini yang aku takutkan sejak bersama Simponi. Laki-laki, misalnya, menggunakan isu ini untuk kelihatan keren di mata umum, publik, di mata pacar, di mata gebetannya. Kurang keren apa laki-laki membela perempuan. Tapi ternyata bisa disalahgunakan.

Membela yang lemah? Heroik banget yee.

Yoi. Ternyata kalau dievaluasi berbahaya juga. Di kelompok hardcore feminist sampai ada yang bilang laki-laki tidak bisa jadi feminis. Mungkin ada benarnya. Walau kita sepakat ini bukan natural, tapi ya bagaimana? Mungkin karena patriarki sudah berlangsung berabad-abad, agama nambah-nambahin. Sekarang kampanye #MeToo satu per satu idola membuat pengakuan, paling tidak idolaku, kok jadi “semua akan seksis pada waktunya?”

Ada idiom “semua akan seksis pada waktunya”, “semua akan patriarki pada waktunya”. Itu bikin agak ketakutan. Tapi kan tergantung, mau lihat dengan optimis bisa, mau dilihat pesimis juga bisa. Mau optimis ya sebanyak pihak harus dilibatkan, tapi tantangan berat.

Makanya aku ingin Sisters in Danger tidak laki-laki semua demi meminimalisir hal-hal seperti itu. Bisa-bisa terpeleset jadi munafik juga. Sudah keren-keren di panggung begitu di jalan masih ada keinginan menggoda, menganggu, mem-bully, eksploitasi fans, seksis di medsos dan kehidupan sehari-hari, apa lagi melakukan kekerasan terhadap pacar atau istri. Tapi ya sudah sama-sama belajar. Cuma kalau sekian lama gak berubah ya gak bisa. Out!

Sambutan media mayor gimana?

Tidak semua menyambut baik, bahkan pernah kami minta-minta diundang. Ya gak masuk aja, mungkin karena kurang top. Bahkan yang Pemrednya perempuan begitu, apa lagi yang decision maker-nya laki-laki. Ini soal perspektif semua, bukan cuma sepihak. Laki-laki mau pun perempuan. Padahal untuk isu ini kita butuh publikasi, butuh popularitas, butuh idola. Yang begini bikin gak semangat. Tapi kemudian mikir, yang aktivis puluhan tahun aja gak berhenti. Kenapa gua yang baru lima tahun aja ngambek?

Hahaha…

Karena itu gak boleh patah semangat, gak boleh pemarah. Ya itulah ada masalah-masalah band, soal keluarga yang mungkin jadi penyebab, bicara soal isu ini memang harus dikalikan dua. Perjuangan anti korupsi panjang, perjuangan lingkungan hidup panjang, perjuangan anti kekerasan (terhadap perempuan)? dikalikan dua bahkan tiga.

Misalnya di beberapa sekolah dan kampus aku ngomong poligami itu kekerasan. Panitianya suka, progresif, undang-undang saja, tapi peserta yang nonton belum tentu. Yang bikin kesal kalau perempuan dan setuju poligami. Bagaimana coba kamu meladeni penonton perempuan yang setuju poligami? Jadi ya itu harus dikalikan dua-tiga, karena usaha mengubah perspektif itu bisa dibilang subtil. Isu perempuan harapannya kita hanya mendidik laki-laki tapi ternyata harus mendidik semua.

 

Ilustrasi oleh Teguh Sabit

 

 



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *