Bobo Papa, Toko Mama

Bobo Papa, Toko Mama

Sedikit teman, tanpa pekerjaan, minim kesibukan, sebisanya jalan-jalan, kira-kira itulah gambaran awal menetap di Bandung. Zen tidak selalu bisa menemani jalan-jalan, belum ada kendaraan pribadi apa lagi jasa kendaraan online, durung ono. Dengan Daya di dalam perut, percaya diri saja mengisi waktu dengan ngalor ngidul keliling Bandung menggunakan kendaraan umum. Apa lagi salah satu kenangan saat hamil itu, kalau saya diam di rumah Daya heboh bergerak-gerak tidak tenang. Kalau saya jalan-jalan, dia anteng. Sepertinya anak ini suka gerakan roda berputar atau kaki yang melangkah.

Saya kurang tahu tempat lain, sejak pertama menginjakkan kaki di Bandung yang diketahui dan ingin dikunjungi hanya Kineruku. Karena dulu sekali saat masih kuliah saya sempat berhubungan dengan Ariani Darmawan (Rani) untuk keperluan skripsi. Mbak Rani membuat film Anak Naga Beranak Naga, saat itu saya sedang cari tahu tentang Cina Tangerang dan tradisi tari cokek. Sedikit sekali literatur tentang tari cokek, maka saya menguhubungi kreator film dokumenter tersebut yang berkisah tentang gambang kromong, musik yang segendang sepenarian dengan cokek.

Mungkin saya memang tak berbakat menyewa atau meminjam buku. Sering telat mengembalikan, lebih sering lagi ditagih untuk mengembalikan. Begitu pula satu buku yang saya pinjam di Kineruku pertama kalinya dan sekali-kalinya, Anthem oleh Ayn Rand. Berbulan-bulan tak dikembalikan sampai Budi Warsito harus mengirimkan pesan. Saya jawab, dicari dulu, tapi karena saking lamanya sampai abai simpan di mana. “Kalau hilang bagaimana, Mas?” Ia kemudian menjawab kira-kira dengan nada, terserah bagaimana caranya, cari offline atau online, beli di dalam atau luar negeri, pokoknya harus dikembalikan. Tentu saja saya tak keberatan dengan sikap tegasnya, memang saya yang lalai. Buku itu akhirnya ketemu, terselip di rak buku di rumah.

Pengalaman itu meninggalkan kesan yang baik. He is a man of his words. Begitu pula saat Mas Budi bersedia memenuhi permintaan untuk ngobrol. Biasalah ya, waktu untuk ketemu akan dipastikan jelang hari pertemuan. Yang memohon bertemu biasanya yang mengontak kembali untuk menagih waktu. Mas Budi berjanji akan mengabari minggu depannya, maka saya tunggu saja tanpa mengontak duluan. Dan benar! Tringg! Pesan di Whatsapp bertuliskan: “hari sekian jam sekian ya, Galuh.” Siap grak!

 

G: Jadi bagaimana setelah punya anak? Bahagia? Atau semakin bahagia?

B: Bahagia? Hmm… Lebih ke senanglah ya. Punya anak itu ternyata menyenangkan.

G: Punya role model hubungan ayah-anak tidak? Yang bikin ngebatin, “Kalau punya anak, aku akan kayak begitu.”

B: Tidak ada. Soal keturunan, ketika awal-awal menikah kami lebih ke pasrah, se-dikasih-nya saja. Jadi tidak ditarget harus kapan harus berapa. Tidak dikejar. Kalau memang dikasih, ya pasti sangat berarti.

G: Sama dong, aku juga. Se-dikasih-nya.

B: Kalau kalian mau nambah anak lagi?

G: Euuhhm, Zen ingin nambah anak lagi sih. Aku belum, atau enggak. Kayaknya enggak, satu saja.

B: Oh, kalau Zen ingin ya. Kami cukup satu. Aku malah punya beberapa kawan perempuan yang tegas mengatakan tidak akan punya anak. Secara sadar mereka memilih begitu, aku mendengarnya langsung dari mereka.

G: Buat Mas Budi itu “wow”?

B: Terus terang iya, tapi enggak tahu juga sih wow-nya kenapa. Wow aja. Alasan mereka jelas dan aku menghormatinya. Kalau tidak salah, ada kaitan dengan peduli lingkungan.

G: Tentang overpopulation?

B: Semacam itu. Meski ada juga pendapat keras dari seorang kawan lainnya, yang justru berkebalikan meski sebetulnya sama-sama berangkat dari kepedulian. Menurut dia, harusnya orang-orang yang punya privilege tertentu, mungkin maksudnya yang berpendidikan dan berkesempatan pula memberikan pendidikan layak bagi keluarga dan lingkungan terdekatnya, jangan malah enggak punya anak. “Harusnya kitalah yang memenuhi bumi ini dengan anak-anak yang lebih ada kemungkinan berguna bagi sesama, bukan mereka yang justru tipe beranak-pinak sebanyak-banyaknya tanpa peduli rencana pendidikannya!” Pendapat itu sama menariknya. Sementara kawan-kawanku yang pertama tadi, yang jelas-jelas berpendidikan, pintar, pergaulan luas dan luwes, punya banyak kemampuan dan peluang melakukan hal-hal baik, malah memilih untuk enggak punya anak. Tentu ini bukan soal salah dan benar, cuma aku wow aja. Manusia memang rumit.

G: Mas Budi suka mengoleksi barang lama, mengumpulkan barang-barang vintage. Lalu sekarang memiliki “barang” baru. Maksudku barang baru, as in you have a child, you get new things to collect either memories or stuff. Antara mengoleksi barang lama dan mengumpulkan hal-hal baru (yang muncul dari anak) itu bagaimana?

B: Mungkin lebih ke menantang. Mencari barang vintage, koleksi buku atau musik, atau barang-barang apapun yang menyenangkan untuk dikoleksi, biasanya yang pertama kali diperiksa adalah barang ini apa, ada cerita apa di baliknya, siapa pemilik sebelumnya, bikinan tahun berapa, bisa ngapain aja, bla bla bla… Sementara yang satu ini, anak, tanda kutip “barang baru”, adalah darah daging kita. Berasal dari diri kita sendiri. Jelas lebih seru dan menantang, karena kita tidak pernah tahu seperti apa yang bakal nongol. Mendadak semuanya seperti pengalaman pertama. Misalnya, menjemur bayi yang sempat agak kuning. Reaksi pertama, oh harus dijemur ya? OK, pagi-pagi jemur sekian menit. Reaksi berikutnya, lho, ternyata harus dibalik juga? Waduh, gimana nih cara membaliknya? Haha… Beda banget dengan menemukan satu plat gramofon tua yang langka, mengelapnya harus hati-hati, mencucinya pun dengan teknik tertentu karena usia plat itu sudah hampir 100 tahun, jangan sampai malah jatuh dan pecah. Bedanya, bahkan dengan plat gramofon itu, mau selangka apapun kalau harus jatuh dan pecah, ya sudahlah. Sementara anak, darah daging kita ini, waduh, enggak mungkin dibiarkan jatuh begitu saja!

G: Bagi Mas Budi yang suka menyimpan kenangan (uhuk), baik dalam bentuk fisik mau pun tidak, melihat orangtua zaman sekarang yang gemar mendokumentasikan anak dan mempublikasikannya di media sosial, apakah over publish atau over expose?

B: Preferensi orang memang beda-beda. Aku menikah di usia 33, di saat teman-teman seumuranku sudah punya anak. Akun Facebook mereka profile picture-nya pasti foto anak, dan albumnya dipenuhi foto-foto bareng anak. Dulu sih aku mikirnya: “Harus, ya, kayak gini banget?” Tapi sekarang, begitu punya anak juga, ternyata handphone-ku paling penuh dengan foto anak! Kesukaan memotret anak sendiri adalah satu hal, tapi memajangnya di media sosial itu hal lain. Aku punya akun Instagram yang terkunci. Pernah memajang foto anak di situ, pernah juga aku hapus.

G: Lebih ke soal safety?

B: Kadang-kadang pakai feeling saja: “Ah, enggak usah, deh.” Kalau pun ada yang harus di-posting, biasanya tidak terlalu frontal dari depan.

G: Masih mencetak foto?

B: Ada seorang kawan baik yang sangat bangga dengan portable printer kecil miliknya. Dia punya kamera canggih dengan semacam remote-control pakai satu apps di handphone, jadi bisa selfie tanpa perlu kameranya dipegang. Saking sukanya, dia juga cetak beberapa kali buat kami, foto-foto wefie dia bareng Rani dan Gati. Wah, lucu juga! Aku dan Rani tiap abis motret-motret Gati sering ngomong, ayo dicetak, yuk ah, bikin album keluarga. Tapi bahkan untuk sekadar memindahkan ke komputer saja kami malas. Akhirnya cuma dilihat-lihat di handphone.

G: Kalau ke Gati lebih suka bercerita atau mendengarkan musik?

B: Nah, soal musik ini lucu. Aku merasa aku dan Rani sangat suka musik, jadi kami membayangkan anak kami pasti musikal. Ketika hamil Rani pernah coba mendengarkan, standarlah ya, musik klasik dari CD. Tapi setelah beberapa lama, ternyata Rani malah tidak suka dan lebih memilih nyetel kaset-kaset dangdut! Bayangkan, ini O.M. Pengantar Minum Racun! Aku punya banyak kaset lama PMR, ada sepuluh album lebih. Senang banget Rani, dan kayaknya Gati di dalam perut ibunya juga senang!

G: Lebih goyang, gitu ya? Haha…

B: Mungkin juga. Kurang tahu hal itu berpengaruh apa tidak, tapi Gati termasuk anak yang ceria. Gembira dan cerewet.

G: Daya juga anak yang ceria. Mirip bapaknya, happy kid, outspoken, socialize.

B: Iya, kelihatan banget miripnya sama Zen! Haha… Kalau Gati itu senangnya main. Pengennya main teruuus seharian. Tiap bangun tidur pun kalimat pertamanya hampir selalu, “Gati mau main!” Dia tahu bapak ibunya harus kerja, tahu bahwa kami punya toko, dia menyebutnya “Toko Mama”. Gati sering banget menunggu-nunggu kapan Toko Mama tutup. Kineruku tutup tiap hari Selasa, itu hari libur kami. Nah, Gati selalu menanti hari Selasa tiba. Setiap berapa hari sekali dia akan bertanya, “Hari ini Toko Mama tutup?”, “Enggak, Gati. Masih buka, kan ini belum hari Selasa.” Lalu ketika dia mulai tahu hari, pertanyaannya berganti menjadi, “Mama, hari ini hari Selasa, bukan?”

G: Dia menunggu-nunggu hari Selasa karena bisa main bareng seharian?

B: Betul. Benar-benar seharian bareng kami! Oya, kami punya pengasuh. Di hari-hari pertama bekerja pengasuh Gati ini pernah bertanya ke Rani, “Bu, saya ini suka menyanyi. Boleh enggak ya?” Kami tentunya langsung, “Wah, ya boleh dong!” Mungkin tempat kerjanya dulu tidak mengijinkan dia menyanyi. Lalu sering-seringlah dia menyanyi, sambil ikut mengajarkan Gati lagu-lagu. Alhasil, di umur menjelang 3 tahun ini Gati sudah bisa hafal sekitar 30 lagu anak dan lagu nasional. Dan itu cukup membantu Gati mengekspresikan hal-hal. Di upacara tujuhbelasan tempo hari bareng anak-anak kecil lainnya, Gati nyanyi “Indonesia Raya” paling keras. Bapak ibunya Gati suka musik, tapi karena tidak bisa main alat musik, jadi kami hanya bisa memutarkan lagu. Biasanya lewat piringan hitam. Lucunya, Gati malah kurang tertarik piringan hitam! Waduh, lumayan terpukul juga aku. Namanya anak kecil kan biasanya rasa ingin tahunya besar, sementara Gati, “Ah, Papa… yang lain ajalah. Ganti, ganti!”

G: Penasaran sama peralatan pemutarnya pun enggak?

B: He’eh! Aku lagi mikir, jangan-jangan itu karena aku sering merekam piringan hitam yang sedang kuputar memakai handphone. Jadilah handphone-ku penuh sesak dengan video-video rekaman itu. Mungkin itu yang bikin dia kesal, karena aku jadi sibuk dengan gadget. Dari situ pula mungkin dia jadi kesal dengan piringan hitam.

Atau, ada sebab lain. Aku suka lagu-lagu Remy Sylado, terutama cara dia mengekspresikan hal-hal. Lagu-lagunya memang cenderung berani, vulgar, ngaco, kasar. Ada teman bilang, meski belum paham lirik, anak kecil bisa menangkap nada-nada sebuah lagu itu beraura positif atau negatif. Tema-tema Remy memang kontroversial sih ya; pergaulan bebas, perlawanan terhadap orangtua, jatuh cinta pada pelacur, asmara antar-ras, dan sebagainya. Warna vokalnya pun cenderung menyebalkan. Aku punya kecenderungan menyukai penyanyi-penyanyi bersuara “jelek”, dalam tanda kutip. Persis seperti lirik lagu dari salah satu band dari New York kesukaanku, “…all my favorite singers couldn’t sing…” Aku menikmatinya, sementara Gati langsung menunjukkan ketidaksukaannya. “Ganti, Papa… Ganti!” Tentu aku harus berkompromi. Tidak memutarnya ketika Gati berada di dekatku, misalnya.

G: Lalu berbagi peran sama Mbak Rani bagaimana? Kalau sama Zen, Daya itu sepertinya lebih terpenuhi having fun-nya, kalau sama aku lebih banyak aturan. Mas Budi dan Mbak Rani bagaimana? Apalagi kata orang-orang, anak perempuan cenderung dekat sama bapaknya.

B: Soal itu Gati sepertinya biasa-biasa saja. Sama Papa oke, sama Mama juga oke. Kalau Zen lagi bekerja itu biasanya Daya bagaimana?

G: Dari kecil, sejak bayi sering bersebelahan, karena Zen kerja di rumah. Sampai sekarang pun, tempat kerjanya Zen seringkali jadi playground-nya dia. Jadi Daya berteman baik dengan teman-teman kerjanya Zen juga, laki-laki mau pun perempuan. Kadang-kadang itu perlu. Meski tentu orangtuanya tetap harus selalu awas.

B: Ada satu keadaan sih, yang menurutku apes. Dan aku berusaha memperbaikinya.

G: Apa itu?

B: Bayangan tentang seorang ayah menggendong anaknya, tentu indah. Aku juga mau seperti itu. Ada masa-masa aku sempat gendong Gati di pundak, ada fotonya, itu menyenangkan. Sampai satu waktu sakit punggungku kambuh dan cukup parah, bisa dibilang hampir melumpuhkan. Proses penyembuhannya butuh waktu lama. Kadang untuk berjalan pun aku harus pakai tongkat. Dan itu cukup bikin jarak psikologis yang signifikan di antara kami.

G: Berpengaruh, ya?

B: Ternyata ngaruh banget. Selama penyembuhan itu aku jadi tidak bisa menggendong Gati. Paling cuma bisa menggandeng. Ketika ada satu tempat yang lebih tinggi, wajar dong kalau Gati bilang, “Gati mau lihat ke sana, Papa!” Tapi aku enggak bisa angkat dia. Sedih juga sih. Sekarang dia sudah mulai besar, jadi bisa aku topang sedikit di tempat agak tinggi, lalu dia bisa melompat naik sendiri. Tapi tetap belum bisa gendong. Sekarang punggungku terus membaik, tapi berat badan Gati pun terus bertambah.

G: Yang dipelajari dari cara didik orangtua Mas Budi dan penerapannya setelah sekarang memiliki anak?

B: Kegiatan membaca. Bapak ibuku menyediakan banyak bacaan di rumah, sejak kecil aku memang sudah akrab dengan buku-buku. Ya gimana, kamu baru lahir saja aku sudah baca puisi. (Mas Budi pernah mengunggah di akun Instagram-nya, foto sebuah puisi dari halaman majalah Bobo yang disukainya waktu kecil, dan tanggal terbit edisi itu sama persis dengan tanggal lahir saya. –Red)

G: Hahahaha… Kalau keperluan baca-baca pengetahuan praktis tentang perawatan anak?

B: Kalau Rani iya, namanya juga ibu. Kalau aku cenderung enggak, hanya sepintas lalu.

G: Lebih mengandalkan insting?

B: Bisa jadi! Hehe… Misalnya, aku googling tips ini-itu soal parenting atau anak, waduh, pro-kontranya kok banyak banget, malah membingungkan. Pertanyaannya apa, pembahasannya ke mana, kadang saling berbantah-bantahan, udah panjang-panjang, eh, ujung-ujungnya diakhiri, “Tapi semua tergantung sama Yang Di Atas sih, Bun…” Lha, terus ngapain tadi ribut? Ya sudah, lebih baik aku percayakan saja pada Rani. Dia lebih bisa merangkum hal-hal dan menakar sendiri, mungkin karena intuisi atas sesama perempuan, juga lebih enak. Aku biasanya meminta Rani untuk kemudian memberitahu aku harus bagaimana.

Oya, belum lagi soal pertentangan pola pikir generasi lama (sebelum kita) dan generasi baru (kita) dalam mengasuh anak. Soal harus dibedong atau tidak, misalnya, itu saja bisa panjang banget argumennya, belum hal-hal lainnya. Sebagai generasi di atas kita, kredo mereka biasanya adalah, “Kami pernah muda, kalian belum pernah tua.” Hehe… Akhirnya kupikir-pikir, okelah, perbedaan pasti ada, teknologi makin berkembang dan penemuan baru terus bermunculan. Kita sesama muda saja pro-kontranya banyak, apalagi antara yang tua dengan yang muda. Aku ambil praktisnya; pada dasarnya semua ingin yang terbaik untuk si anak atau si cucu, ya sudahlah, pendapat-pendapat mereka kita iyakan saja dulu. Karena kalau tidak, bisa berpotensi konflik dan malah menambah masalah baru lagi. Malas. Aku harus mengurus anak, kalau waktunya dihabiskan untuk saling bersuara keras dan ujung-ujungnya malah saling menyakiti, itu jelas tidak produktif.

G: Bekerja bersama istri dalam satu lingkungan yang sama, bagaimana mengatur waktu dan ritme kerja? Gati dibawa?

B: Karena kami punya usaha sendiri dan jam kerjanya relatif lentur, jadi Gati selalu ada di sekitar kami. Lagipula tempat tinggal dan tempat kerja berdekatan. Bahkan kami pun bisa bekerja dari rumah. Ketika harus pergi untuk urusan kerja, kami usahakan untuk main bareng Gati dulu agak lama. Rumah orangtua Rani juga dekat, jadi Gati bisa dititipkan kakek neneknya juga. Kadang kami bawa Gati untuk bermain dan makan bareng di rumah Oma dan Opa.

G: Ada cerita khusus tentang melatih kemandirian anak?

B: Oya, sejak umur nol Gati sudah dibiasakan tidur sendiri di kamar terpisah, berdekatan dengan kamar bapak ibunya. Tentu ada perangkat keamanan khusus sesuai standar. Rani juga tipe ibu yang mengharuskan bayinya pakai car seat saat naik mobil. Dari umur sebulan Gati sudah didudukkan sendirian di car seat, bukan di kursi biasa orang dewasa. Untungnya Gati langsung mau, dan lama-lama dia makin terbiasa. Gati jadi tahu posisi, dia harus duduk di mana, ibunya duduk di mana, bapaknya di mana. Sampai sekarang pun Gati masih pakai car seat.

G: Bahkan dalam perjalanan jauh pun?

B: Iya, pernah kami ke luar kota via mobil pribadi, lima jam perjalanan. Sesekali Gati rewel, mungkin bosan. Kadang dicopot sebentar dari car seat, dipangku ibunya atau berdiri sambil dipegangi, lalu dia mau balik lagi ke car seat-nya. Sudah ada kesadaran atas posisi dia.

G: Aku suka banget cerita Mas Budi ketika beli kumang, itu di Taman Lalu Lintas kan ya? Lucu! Gati suka dibacakan cerita?

B: Gati senang banget dibacakan cerita! Ya iyalah ya, orangtuanya punya toko buku, punya perpustakaan, masa anaknya enggak suka. Meskipun tadi sempat gagal di musik, hahaha… Untunglah Gati senang banget buku. Makan sambil dibacain buku. Mau tidur, baca buku. Bangun tidur, baca buku. Beberapa kawan dekat kami juga sering menghadiahi Gati buku-buku cerita anak, manis sekali. Aku sendiri lagi sering posting foto majalah-majalah Bobo lama. Oma sampai sekarang masih berlangganan Bobo meski cucu-cucunya sudah besar dan tinggal di luar kota. Begitu lahir Gati, Oma semangat lagi membacakan Bobo untuk cucu terkecilnya ini. Sampai habis dibolak-balik Gati dan Oma. Aku pikir kasihan juga Gati bacanya itu-lagi-itu-lagi. Untuk variasi, aku keluarkan Bobo dari ruang arsip koleksiku, setumpuk demi setumpuk majalah Bobo lama yang dulu aku baca sewaktu kecil. Ternyata Gati suka, dan menyebutnya “Bobo Papa”. Jadi kalau minta dibacakan majalah Bobo, ditanya dulu, “Mau Bobo Gati atau Bobo Papa?”

G: Mas Budi punya Bobo dari tahun berapa? ‘80an?

B: Majalah Bobo pertama kali terbit tahun 1973, tapi aku belum pernah nemu edisi pertamanya. Paling tua yang aku simpan adalah satu set lengkap edisi-edisi tahun kedua. Aku memang sengaja mengumpulkan, dan selalu tertarik menyimpan majalah-majalah tua. Pada dasarnya majalah apapun sih, mulai dari terbitan awal abad ke-20 bahkan hingga millenium baru. Tiap pergi ke Jakarta aku pasti mampir ke Blok M Square lantai basement, itu surga buku banget. Jangan-jangan kalau aku berdomisili di Jakarta, aku nangkring di situ tiap hari! Pernah suatu kali nangkring, aku mendapati majalah-majalah Bobo edisi tahun 1986, nyaris lengkap dan berurut. Ternyata aku masih ingat halaman per halaman isinya. Aku tidak akan pernah lupa, bagaimana dulu pertama kali belajar membaca dari edisi-edisi itu. Atas nama nostalgia, aku borong semuanya.

Sepengamatanku, Bobo tiap dekade punya ciri khas estetik masing-masing. Era ‘70-an, look-nya masih agak kuno. Masuk era ‘80-an, ini paling favoritku, sudah termasuk moderen di masanya, sedikit mendahului zaman malah. Jadi ketika dilihat-lihat lagi sekarang, yaitu tigapuluh tahun setelahnya, visualnya masih terasa enak. Teksnya ternyata juga tidak terlalu mengada-ada. Masih relevan, seperti timeless classic. Paman Kikuk-nya juga sedang di fase gambar terbaik, cerita terbaik. Teks lainnya, semacam cerpen untuk anak juga masih terasa pas ketika dibaca ulang. Ah, apalagi rubrik-rubrik pengetahuannya! “Cici Bercerita tentang…”, “Ensiklo Bobo”, artikel lepasan tentang sains populer, dan sebagainya. Majalah Bobo jelas agen budaya terbesar Indonesia saat itu.

Waktu kecil, halaman “Ensiklo Bobo” itu sampai aku gunting-gunting lho, kutempel-tempel di buku tulis. Jadi semacam kliping, dan aku masih hafal luar kepala isi kliping itu sampai sekarang. Sebetulnya cuma trivia-trivia enggak penting. Misalnya, singkatan dari apa UFO itu berikut penjelasannya, mengapa ikan yang mati mengapung di air dengan perut di atas, apa perbedaan “malam tadi” dan “tadi malam”, dan seterusnya. Sekarang sih gampang banget tinggal googling, dulu kan belum ada internet. Aku cinta banget rubrik itu, dan si Budi kecil sering tiba-tiba merasa lebih pintar ketimbang teman-temannya!

G: Bagaimana ceritanya, dulu semasa kecil bisa mengakses Bobo?

B: Aku pernah bertanya ke ibuku, “Kenapa dulu Ibu berlangganan Bobo?” Lupa persisnya, karena di luar dugaan ternyata jawabannya tidak terlalu menarik. Hehe… Apapun itu, aku sangat bersyukur ibuku mau mengusahakan itu meski tinggal di kota kecil. Dulu di kampung halaman di pelosok Jawa Tengah, se-kabupaten itu mungkin hanya ada satu atau dua keluarga yang berlangganan Bobo.

G: Ibu (seorang) guru, ya?

B: Iya, bapak juga. Bapak dan ibuku dua-duanya guru.

G: Sejauh apa pola orangtua berpengaruh ke cara Mas Budi mengasuh anak sekarang?

B: Ya itu tadi, karena bapak ibuku memberikan akses banyak bacaan sejak dini ke anak-anaknya, itu salah satu yang aku tiru dari mereka ke anakku. Seperti kebanyakan bocah perempuan lainnya, Gati punya beberapa boneka. Dari bayi sampai hari ini, boneka paling favorit Gati adalah pemberian dari Mbah Putri, dibeli dari sebuah toko kelontong kecil di kampung halamanku. Sempat terpikir juga, suatu hari nanti aku ingin mengajari Gati berbahasa Jawa. Kalau soal pengaruh pola asuh dari orangtua Rani, aku sering bertanya ke Rani, “Dulu papa mamanya Rani mendidik anak seperti apa sih, kok hasilnya bisa bagus seperti ini?” Sudah dijiplak saja Rani ke Gati, terutama soal berekspresi, kreativitas, seni. Mungkin juga karena sama-sama perempuan ya. Bukan berarti aku se-nggak-mau-berusaha itu, tapi setelah dipikir-pikir memang, “Jangan seperti aku deh.” Tentu sambil tetap dikombinasikan.

G: Aku sama Zen juga seperti itu. Soal nilai-nilai, ya biar (Daya) seperti Zen sajalah. Pernah ditanya sama teman, kalau misal aku, atau kami, orangtuanya Daya meninggal, pengasuhan atau perwaliannya akan diserahkan ke siapa, ke keluarga yang mana? Ya aku jawab: keluarganya Zen, bukan keluarga di Jakarta.

B: Wah, bagus ya, sudah kalian bicarakan sampai ke tahap itu. Rani mengaku bersyukur banget anaknya perempuan.

G: Terkait dengan?

B: Aku anak bungsu dari tiga bersaudara, cowok semua. Setelah dipikir-pikir, kami tiga kakak beradik ini ternyata tidak saling dekat. Bapak kami cenderung kaku dan keras, mungkin keadaan mengharuskannya demikian. Kami menghormati beliau meski ada jarak psikologis yang sulit diseberangi. Kalau ada orang ngajak ngobrol soal parenting, terutama fatherhood, seperti sekarang ini, sejujurnya aku bingung. Aku merasa tidak terlalu memahami fatherhood. Rani pernah bilang, dia enggak kebayang apa jadinya kalau anak kami laki-laki, semacam kekhawatiran, “Nanti Budi ke dia kayak gimana?” Ada benarnya juga. Aku merasa enggak gampang berinteraksi dengan bapak, lalu harus menghadapi anak cowok? Sepertinya susah.

 

* * *

 

 



4 thoughts on “Bobo Papa, Toko Mama”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *