a blog by Galuh

a blog by Galuh

Nir Empirik Mudik

Nir Empirik Mudik

Selain berpuasa dan ibadah lainnya, bulan Ramadhan identik dengan persiapan mudik. Kamu mudik ke mana tahun ini? Atau gak mudik sama sekali? Sejak menikah, saya mengalami kegumunan tersendiri mengenai mudik. Ini tulisan enam tahun lalu (8/8/2013), waktu itu merespon tulisan suami yang saya anggap meromantisir peristiwa mudik. Saya repost karena minggu lalu sungguh berat untuk mengolah artikel baru, jadi tulisan lama aja yang dinaikin. Ini juga telat dua hari haha. Still okay lah yaa. Selamat membaca dan selamat beribadah di bulan Ramadhan.

 

Untuk pertama kalinya setelah seperempat abad saya harus ‘mudik’.

Saya tidak dibesarkan dalam tradisi pulang kampung atau ‘mudik’ karena memang tidak pernah tinggal berpisah dengan orang tua selama minimal satu tahun. Pun Ayah demikian, ia orang Semarang, tapi tidak pernah juga kami berangkat secara khusus ke Semarang untuk merayakan lebaran. Setelah menikah dengan Ibu, ia meleburkan dirinya dengan berlebaran menurut kebiasaan di Pontianak.

Cara berlebaran di Pontianak terbilang unik. Rumah-rumah mulai menyiapkan hidangan terbaik sejak Ramadhan dimulai. Setiap tahun Ibu selalu mengerahkan segenap usahanya untuk membuat kue kering, kue lapis, tape ketan, es buah, puding, dan lain-lain dalam jumlah yang banyak. Ibu sangat jago memasak. Lezat masakan, kue-kue dan minuman yang ia buat bikin kami bangga dan tanpa keluh bersedia membantu mencuci piring bekas para tamu makan. Ayah juga sibuk dengan mengecat dinding rumah, pagar, juga memangkas rumput di halaman.

Entah karena jarak yang pendek untuk mengelilingi kota atau memang orang-orangnya punya banyak waktu luang (baca: kurang kerjaan), lebaran di Pontianak adalah saling berkunjung. Maksudnya bagaimana? Seperti ini: jika saya berkunjung ke rumah anda, ada keharusan dibaliknya untuk anda mengunjungi rumah saya. Merepotkan? Iya. Namun jika tidak dilakukan hal itu akan diingat sebagai ‘hutang’ kunjungan. Maka tidak heran suasana lebaran di Pontianak akan terus terasa hingga bulan Syawal usai. Bahkan bila libur resmi nasional habis dan sudah waktunya untuk masuk kantor atau sekolah, pada malam harinya jika anda berkeliling di jalanan kota Pontianak, anda akan melihat pintu-pintu rumah terbuka, hiasan lebaran masih tergantung dan lampu-lampu di ruang tamu masih terang benderang menyambut tamu yang datang. Riuh, ramai, festive, menyenangkan, walau pun melelahkan.

Pindah ke Jakarta sejak 2001, kami cukup menanti-nanti akan seperti apa suasana berlebaran di Jakarta. Awalnya agak aneh melihat orang-orang berkegiatan tak berbeda layaknya sedang pergi wisata saat liburan: pergi ke mal, ke kebun binatang, menginap di Puncak, dan mengunjungi tempat tujuan wisata lainnya. Sangat biasa-biasa saja. Yang mendadak jadi luar biasa hanya kondisi jalanan di ibukota.

Saya pun mengendapkannya sebagai kosa pengalaman baru yang mau tidak mau saya terima. Kami tidak lagi menyiapkan pakaian baru, tidak ada lagi keriuhan memanggang kue di dapur, sering pula di hari lebaran Ayah tetap pergi bekerja. Sementara orang berbondong-bondong pergi ke mesjid untuk sholat Id, saya bisa dengan santai bangun siang di hari lebaran. Mengingat enerji besar kami keluarkan untuk menjalani lebaran dengan cara seperti di Pontianak, maka kami memaknai berlebaran di Jakarta sebagai sesuatu yang jauh dari rasa lelah. Tidak melelahkan dan tetap menyenangkan.


Bisa dibilang Jakarta berhasil membuat saya tidak meromantisir momen lebaran. Dengan cepat saya tidak merindukan berlebaran di Pontianak lagi meski kami tetap saling mengucapkan selamat Lebaran dan bermaaf-maafan seperti orang pada umumnya.

Dalam hal ini ‘mudik’ tidak pernah menjadi kosakata dalam pengalaman hidup saya. Jauh. Tapi dalam dua tahun terakhir dan mungkin seterusnya di tahun-tahun yang akan datang saya harus tetap ikut-ikutan ‘mudik’. Faktanya adalah, Cirebon bukan tempat saya dilahirkan juga bukan tempat untuk saya berpulang. Dan terasa aneh jika harus menempatkan Jakarta sebagai tempat untuk kembali ke udik. Karena memang bukan. Maka saya juga tidak merasa perlu menciptakan keharusan baru misalnya dengan ‘harus berlebaran di Jakarta’. Mungkin anak saya yang butuh mengalami suasana berlebaran tertentu secara khusus, untuk itu tentu saya bisa berkompromi.

Tapi jika saya hanya ingin melewatkan the so-called lebaran dengan cara biasa-biasa saja, minum kopi sambil makan kue dan nonton Factory Girl, bukan berarti saya kejam karena tidak ikut-ikutan arus menjalani konsensus. Mungkin saya hanya ingin menunjukkan kepada anak saya bahwa ada banyak ikan lain selain ikan salmon.

Pernah dibahas pada satu conversation thread di milis sehat tentang sumber makanan terbaik untuk perkembangan otak. Ikan salmon menempati urutan teratas sebagai sumber gizi terbaik. Yang lalu disahut oleh tetua milis sehat, Dr. Wati, bahwa semua jenis ikan sangat baik untuk perkembangan otak. Ikan salmon sulit terjangkau, selain mahal, habitatnya pun bukan di Indonesia. Tidak semua orang mampu memakan kebijaksanaan salmon. Karena itu, kata Dr. Wati lagi, ikan lele, kembung atau bahkan belut pun tetap sama baiknya untuk dikonsumsi oleh otak.

 

 

 



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *