a blog by Galuh

a blog by Galuh

Didi Nugrahadi: Mengelola Ekspektasi

Didi Nugrahadi: Mengelola Ekspektasi

Bicara tentang perkembangan dunia berita digital Indonesia gak bisa gak menyebut nama Didi Nugrahadi. Beliau merupakan co-founder Detik.com. Saya kenal pak Didi pada 2009 saat beliau sedang membangun salingsilang.com yang berbasis di Jl. Langsat. Kemudian melahirkan anak-anak situs lain seperti salah satu yang seru banget saat itu: politikana.com.

Saling Silang tutup, tapi tidak dengan semangat pak Didi. Meski sudah berusia 60-an tahun, sosok yang gak kenal kata “pensiun” ini mendirikan Beritagar.id dan menjadi CEO, COO di beberapa perusahaan. Bisa gugling yes beliau duduk di institusi mana aja.

Nah, sudah lama gak ngobrol dengan orang rumah. Beberapa waktu lalu saya ketemu pak Didi di Nitro Coffee. Ngalor ngidul bicara ini itu, penasaran juga bagaimana beliau menyikapi statusnya sebagai kakek. Secara pak Didi kan lincah dan enerjik, gak potongan kakek-kakek seperti yang sering kita lihat gitu loh 😉 Dan di dalam kultur masyarakat kolektif, peran kakek dan nenek besar sekali, baik sebagai support system atau jadi supporter saat cucu pentas dan bertanding 🙂

Waktu Colette lahir aku masih ingat pak Didi bilang gak berani gendong bayi merah.

Oh iya waktu lahir belum berani, karena takut tengkuknya belum kuat. Tapi setelah beberapa lama akhirnya memberanikan diri buat gendong juga.

Perubahan status yang tadinya sebagai bapak lalu menjadi kakek, ada jetlag-jetlag gak?

Gak ada, biasa aja. Kalo ngeliat cucu kadang dalam hati bilang, “wah dia bagian dari gue nih…” Haha, ada begitunya. Tapi menurutku parenting itu ada tiga pendekatan: satu, kita di depan anak, “udah lu santai, gue di depan.” Lalu yang kedua aku di samping, bergandengan, berbarengan. Yang ketiga, anak di depan, “Nak jalan, karena kamu harus jalan. Aku di belakang aja ngikutin.”

Semacam Tut Wuri Handayani.

Kalau anak jatuh, ya gak apa-apa wong hidup itu kadang ada jatuhnya. Bangun lagi! Aku pilih posisi di belakang. Jadi kayak Dita (anak pertama) itu belajar sendiri, bener-bener dilepas. Aku pernah sharing saat diundang sebagai narasumber topik parenting. Ya udah aku cerita apa adanya. Kata moderator, “ini proven, bagus! Kalo mau ditiru bagus kalo gak ya jangan.” Haha… Karena menurut dia resikonya terlalu besar. Resiko apa sih? Dulu istri juga bilang begitu, “nanti kalo anak gak naik kelas gimana?” Ya ngulang aja emang kenapa? Gapapa juga kan?! Risk taker haha. Tapi punya cucu tuh asyik.

Gimana, Pak? Enjoy?

Kalo dia dateng aku senang.

Atau capek? Aduh ngerepotin, pecicilan banget sih… Memusingkan?

Oh gak-gak, pecicilan ya pastilah. Aku bilang sama Dita dan Angga, anak lu kayak gimana jangan pernah dimarahin. Kenapa? Karena salah satu dari kalian pasti kayak dia, udah pasti itu.

Mengopi orangtuanya. Colette lucu banget lagi. Talkative, riang, ekspresif.

Talkative-nya iya. Itu salah satu yang kuakui keren. Naluri memimpinnya kuat. Jadi kalo ada anak-anak seumuran, gede atau kecil dikit, dia cenderung nge-drive. Ya mungkin karena bapaknya anak pertama, ibunya juga anak pertama.

Orangtua kan seringkali jadi pengambil keputusan tentang anak. Mengenai cucu, Pak Didi punya rikues gak sih ke Ibunya Colette?

Jangan begini jangan begitu?

Kan banyak kakek dan nenek yang nitip ke orangtua si cucu, “Nanti disekolahkan di sini ya. Jangan lupa diajarin agama ya.” Hehe…

Oh enggak.

Dan itu sampai difasilitasi, misalnya, “Aku mau anakmu sekolah di sini jadi kamu ambil rumah di dekat sekolahnya aja.” Terutama soal pendidikan kan biasanya ada pesan-pesan gitu.

Gak. Aku sih enggak. Sama sekali nggak. Dita cerita mau daftarin Colette sekolah di sini sini sini. Ya sekolahin aja. Dulu mau disekolahin di sekolah Katolik. Ya terserah aja. Tapi dari pilihan yang dia ceritakan aku kok prefer Colette sekolah di Cikal. Gak tahu apa yang terjadi tahu-tahu Dita pilih Cikal juga. Tanpa dia tahu bahwa aku sukanya Cikal.

Apa yang paling di-notice dari Colette?

Aku pengen nemenin dia selama mungkin. Nemenin, gak ngapa-ngapain. Pengen bisa sharing sesuatu, cerita-cerita. Sekarang kan belum. Pengen lebih menanamkan bahwa nanti hidup itu sendiri.

Pesan yang sama yang disampaikan ke Dita juga sebenarnya ya?

Ya, sama. Musti prepare, musti tough.

Ke Dita ada gak, “nambah lagi dong, nambah cucu laki-laki.”?

Oh gak ada.

Biasanya kakek-nenek itu, “anak jangan satu, dua dong, nanti tua ga ada yang ngurusin kamu.”

Begini Galuh, itu kan kontrolnya bukan di aku, tapi di anak. Kalo aku rikues, sungguh-sungguh, minta-minta, terus anak gak mau, menolak, aku jadi sedih. Kalo aku sedih, memukul diriku sendiri. Aku gak mau karena gak pengen sedih. Kalo aku sedih nanti gak bisa nemenin cucu.

Jadi hal-hal semacam itu sedikit pun tidak terpikirkan?

Totally no. Aku malah sebel kalo ada keluarga lain yang nanya-nanya, eh kamu kapan nambah anak? Yang kita tanya itu kan belum tentu suka. Kalo kita nanya ya coba yang disukai lawan bicara dong. Kalo gak suka kan bikin orang kesel. Bahwa kalo dia punya anak lagi bagus, seneng iya, kalo gak ya gak apa-apa. Nah kalo Colette dateng ke rumah, eyang uti-nya nyambut, rame. Kalo aku ya diem aja.

Si cucu malah penasaran dong?

Exactly! Mungkin karakternya Colette lebih suka dengan yang gak terlalu intimidatif gitu.

Tapi anak-anak memang begitu sih. Kalo digemesin kan sebenarnya mereka bingung kenapa.

Iya ya.

Seminggu sekali pasti ketemu, pak?

Nyaris iya. Kan aku panahan di rumah, di halaman belakang. Colette mendekat, melihat, terus lihat prosesnya. Lama-lama dia ikut ngambilin panah satu-satu, bantu pasang.

Itu salah satu hal yang Colette suka dari kakeknya?

Kelihatannya begitu. Lebih ke, oh orang ini sukanya olahraga ini ya, asik juga. Karena dia lihat lalu mencoba. Caraku mendekati cucu adalah mencari tahu apa sih yang dia senangi. Bukan soal beli barang ya, tapi aktifitas.
Satu hal juga, dulu kalo anak pegang-pegang botol yang gak ada tutupnya, “eh nanti tumpah lho. Kalo digeser-geser nanti tumpah.” Eh tumpah beneran. Apa yang akan Galuh lakukan menghadapi situasi seperti itu? Kalo aku gak marah. Oh tumpah, berarti harus dirapihin, diberesin, dilap. Aku ambil lap. Dilap, dibantuin, selesai. Dimarahi? Enggak. Aku akan ngasihtahu, menasehati saat sedang santai. Mengingatkan bahwa kemarin sudah diperingatkan tapi kamu nekat. Akhirnya kita berdua repot harus membereskan.

Dinasehatinya pas anak/cucu lagi pengen deket begitu ya?

Iya. Kenapa? Karena orang bikin kesalahan itu, sebenarnya tahu bahwa dia salah. Ketika dia melakukan kesalahan, dia itu butuh temen.

Orang salah itu butuh temen. Hmmh…

Ya dong, eh temenin aku dong, gimana nih?! Prinsipku begitu. Ke Colette juga sama. Tujuannya, aku pengen jadi temenmu. Kalo aku jadi temenmu, nanti gede lu pasti ngomongnya sama aku.

Yes!

Haha… tricky. Cara ini ternyata works bukan hanya ke cucu, bukan hanya ke anak, tapi juga ke istri, ke pegawai, ke temen, ke anak buah. Dan menurutku esensi komunikasi itu mendengarkan. Aku pengen jadi temennya Colette dengan caraku, karena aku memang mendengarkan dia. Dan dia yang menganggap aku temennya. Itu yang ngajarin aku Ibu.

Ibu pak Didi?

“Inti dari buku ini sederhana, komunikasi yang baik adalah mendengarkan, bukan bicara.” Didi Nugrahadi, 2019.

Dulu waktu menikah aku dikasih buku sama Ibu, How to Talk to Children so They will Listen, And how to Listen to Children so They will Talk. Pindah ke Jakarta dibekali buku itu.

Melampaui zamannya.

Kenapa?

Generasi orangtuaku, generasi pak Didi, dikenal otoriter.

Bapakku dulu begitu. Aku mikirnya simple. Kalo gak suka diperlakukan buruk oleh orang, ya aku gak akan berbuat begitulah. Makanya ketika punya keluarga sendiri, rasanya aku gak mau melakukan hal yang sama, tapi sebaliknya. Ibuku guru, ngajarin aku matematika sampai aku nangis-nangis. Harus bisa, harus bisa. Makanya ketika punya anak sendiri tak bebasin.

Ya, kita belajar dari orangtua. Kebanyakan berpikir bahwa saya gak mau melakukan hal seperti yang dilakukan orangtua saya. Kalo Dita malah sebaliknya ga?

Sekarang ini ke Colette?

Ya misal, “aku pengen memperlakukan Colette seperti orangtuaku memperlakukanku.”

Aku gak tahu, dan tidak pernah nanya. Karena aku pasti banyak kurangnya. Pasti ada hal yang cocok, ada yang enggak. Pokoknya gak pengen punya harapan aja. Kalo mau nanya ya nanya. Aku males kalo punya rikues terus ditolak kan jadi sakit hati. Enak aja hahaha, hidupku pengen seneng-seneng kok.

Mantab. Karena begitu yang sering aku dengar, Pak. “Kamu terserah, bebas anak mau gimana, tapi…” Yeaa ada tapinya.

Hahaha… soal agama pun begitu. Dita dulu pernah nanya, kalo nikah sama muslim gimana? Syaratku cuma satu, jangan pindah agama sebelum belajar. Lu harus kenal dululah agama lu kayak apa, jangan pindah agama karena menikah. Atau ya udah gak usah (punya agama) sekalian.

Make sense. Kalo mamanya Dita gimana?

Ikut aku aja akhirnya. Meski ya seperti nenek pada umumnya. Kangen, pengen ketemu (anak/cucu). Colette biasanya Sabtu datang ke rumah. Kalo gak dateng, istri pengen hari Minggunya ke rumah Dita. Aku bilang kalo mau ke sana ya ke sana aja. Hari Minggu itu aku punya kegiatan yang harus dilakukan, dan aku gak mau diganggu hanya karena pengen ketemu cucu. Belum tentu cara ini works. Tapi ya kata kuncinya mengelola harapan sih.

Bahkan ke cucu pun harus mengelola harapan?

Ya kan kepengenan itu banyak, pengen ketemu cucu, harapan agar cucuku nanti begini begitu, dst.

Effort-nya kan besar untuk bisa menahan diri seperti itu, Pak.

Sayangnya sudah terlatih. Itu ada bagian lain di mana aku jadi bisa kelola harapan, mengelola ekspektasi. PGB (Persatuan Gerak Badan) Bangau Putih.

Oh waw Bangau Putih!

16 tahun di PGB Bangau Putih berhasil mengubah cara berpikirku tentang banyak hal. Bangau Putih itu mengajarkan kita untuk seimbang. Tubuh (makanan/ minuman), badan (kelenturan) dan pikiran. Pertanyaannya, apakah aku sudah seimbang? Belum. Jauh. Karena seimbang itu kalo menurutku adalah goals. Kapan mau mencapai? gak usah dipikirin. Iya betul bahwa aku punya tujuan ke sana. Dan yang paling berat itu ketika belajar ‘melepaskan’. Tapi karena niat ya sudah.

 

 

 

 

 



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *