a blog by Galuh

a blog by Galuh

Hari-Hari Ibu Saat Anak UN

Hari-Hari Ibu Saat Anak UN

Salah satu mimpi terpurba yang masih bisa saya ingat sampai sekarang adalah saat kelas enam SD, beberapa hari sebelum EBTANAS (Evaluasi Belajar Tahap Akhir Nasional). Saya bermimpi jalanan menuju ke sekolah banjir, alhasil saat sampai di sekolah sudah terlambat dan tidak diizinkan mengikuti EBTANAS. Teman-teman sekelas melihat saya dengan kasihan, dan saya bingung apa tidak satu pun dari mereka yang mengalami kebanjiran saat menuju ke sekolah pagi ini?

Mungkin tanpa disadari, saat itu saya tegang dan stres menghadapi ujian. Tidak hanya secara visual mimpi itu masih bisa diingat, tapi juga yang dirasakan saat berjuang menembus banjir untuk bisa sampai ke sekolah (di dalam mimpi). Tapi hasil akhir berupa NEM (Nilai Evaluasi Murid) saya terhitung tinggi: 41,86. Saya mengingat tiap nol komanya karena senang nilai itu bisa dipakai untuk masuk SMP Negeri favorit. Yang absurd, saya mendapat nilai sempurna untuk mata pelajaran PPKN (Pendidikan Kewarganegaraan). Hahaha… nilai sempurna 10 untuk mata pelajaran yang mengajarkan tentang moral dan norma sebagai warga negara.

Saya punya anak yang duduk di SD kelas 1, jadi kepo, apakah ujian akhir nasional zaman now masih sama dengan zaman old? Atau gitu-gitu aja konten dan ketegangannya? Bertanyalah saya pada Ayu Oktariani. Ayu mempunyai anak yang sekarang sudah kelas 6 SD. Dia juga punya kafe, punya warung siomay, punya akademi futsal, punya community event bertajuk Panggung Minoritas, punya kegiatan sebagai aktivis ODHA, punya skill ngegambar Mandala. Hebat banget yawloohh, perempuan setrong dengan bejibun kegiatan di dalam dan di luar rumah.

Selama April – Mei ini musim ujian anak sekolah, sudah tegang sejak kapan?

Tegangnya terasa sejak Malika masih kelas 4 SD. Karena waktu naik kelas empat, dia dapat wali kelas yang kurang kooperatif dan gak fokus mengajar. Jadi kelas empat kita sama sekali gak punya bahan belajar. Padahal ujian nasional salah satu materinya adalah bahan – bahan di kelas empat.

Sejak anak memasuki kelas 6 SD apakah kegiatan ekstranya dikurangi?

Sebenernya enggak mau dikurangi, tapi gak memungkinkan untuk tetap menjalankan kegiatan ekstra plus pelajaran tambahan. Khawatir sama kondisi fisik yang sudah diforsir sama materi pelajaran yang 3x lipat dari sebelumnya di kelas 4 dan kelas 5.

Apa yang paling menyebalkan selama persiapan menghadapi ujian?

Kalau anak sakit dan kalau anaknya terlalu nyantai.
Kalau terlalu nyantai sebenernya ibunya jadi uring-uringan. Kenapa ya dia kok ga belajar? Dia bisa gak ya nanti pas ujian? Akan ada banyak banget pertanyaan yg meresahkan orangtua, tapi ya itu anaknya malah cenderung gak mikirin.
Kalau anak sakit mah jelas sangat menyebalkan ya. Baik sakit yang gak bisa kita cegah seperti karena kecapekan, karena cuaca atau ketularan temen sakit, ataupun sakit yang dibikin sendiri seperti pecicilan di sekolah lalu jatuh, kaki keseleo atau berdarah dan luka. Khawatir gak maksimal kondisinya kalau pas ujian tiba – tiba sakit.

Demi ujian, ada pola belajar sehari-hari yang berubah?

Kalau di rumah gak ada pola belajar yang diubah. Hanya aktivitas lainnya yang menyesuaikan. Misalnya dulu nonton Youtube bisa 6 jam per minggu, ini 3 jam aja sudah cukup. Tambahannya itu mengikuti jadwal kelas, ada les tambahan di sekolah. Itu aja, gak berlebihan. Kasihan kalau belajar melulu, bisa pusing dia.

Apa pendapat kamu tentang sistem zonasi dalam penerimaan murid sekolah? Apakah sistem ini menyelesaikan masalah?

Sistem Zonasi kalau buat gue pribadi sih menguntungkan banget buat yang tinggal dekat sekolah favorit meskipun secara akademis nilai anak gak akan masuk. Cuma memang buat orangtua yg anak-anaknya punya nilai bagus tapi rumahnya ga ada di area sekitar sekolah tersebut bisa jadi ga dapat seat. Selama kuotanya dibuat merata, rasanya sih gw setuju.

Harapannya nanti anak masuk SMP mana?

Harapan ibu : Pengen nyekolahin di Semi Palar. Karena sepertinya cocok dengan karakter anaknya yang berjiwa eksperimental. Tapi gak jadi karena mahal, waiting list, dan gak dapat ridho dari suami.
Harapan Bapak : Pengen anaknya masuk sekolahnya dia dulu, SMP 5 Bandung. Selain sebagai alumni juga karena masuk wilayah zonasi. Jadi kemungkinan besar bakalan keterima.
Harapan anaknya : SMP 5 atau SMP 2, alasan anaknya karena sekolah yang cukup difavoritkan banyak orang dan lokasinya sangat dekat jadi bisa jalan kaki dari rumah.

Kalau bisa menyampaikan sesuatu pada pemerintah mengenai ujian nasional, apa yang ingin diutarakan?

Karena kita sudah mengalami ujian nasional berkali-kali sejak sekolah dulu, rasanya pengen UN itu dihapuskan saja. Karena gak relevan saat selama enam tahun SD, 3 tahun SMP dan 3 tahun SMA kita belajar berbagai macam ilmu, tapi kelulusan kita ditentukan hanya lewat tiga mata pelajaran. Buat saya sih gak fair banget.
Lalu saya sering punya pertanyaan, kenapa harus ada siswa yang lulus dan tidak lulus? Apakah sekolah itu semata – mata hanya ajang pencarian bakat? Maka mereka yang gak berbakat gak berkesempatan untuk lulus? Apakah dia gak lulus karena tidak mampu, atau sebenernya ada bakat/kemampuan lain yang anak ini sebenernya lebih mampu daripada yang diujicobakan saat UN?

 

Sepengamatan Ayu melihat teman-teman Malika lainnya, bagaimana situasi mereka? Apa benar ada yang sampai sakit karena tegang menghadapi ujian akhir?

Dua minggu menjelang UN, satu kelas Malika ada 10 orang yang sakit termasuk Malika. Kalau Malika sih karena cacar tertular bapaknya, secara mood dia sih oke-oke saja. Tapi yang sembilan orang berdasarkan cerita dari para ibu di grup WA, banyak anak yang kepikiran ujian sampai sakit. Selain tuntutan wali kelas yang cukup keras dalam mendidik, rasanya orangtua juga punya peran penting untuk menjaga mood anak dan menghindari jangan sampe anak psikosomatis. Rata – rata anak yang sakit adalah mereka yang ibu dan bapaknya super galak.

Ujian akhir menegangkan, tapi apakah Malika juga antusias dia akan naik level ke jenjang sekolah menengah?

Malika termasuk anak yang santai dan meskipun terlihat santai dia sebenernya belajar sih. Dia antusias tapi nampaknya gak berlebihan. Ada beberapa pertanyaan yang mulai ditanyakan seputar dunia SMP, tapi masih seputaran apakah pelajarannya akan lebih susah, apakah ekskulnya ada yang menarik? Tapi kemarin ini tiba tiba dia tanya apakah di SMP nanti pake rok panjang atau pendek. Jawaban saya tidak tahu. Dia bilang kalau bisa pake rok pendek dia lebih senang karena lebih nyaman dan gak ribet.
Oiya, salah satu indikator lain yang saya pikir dia tampak antusias adalah setiap kami lewat SMP 5, dia pasti bilang “SMP AKU NIH” atau dia bertanya untuk mendapatkan legitimasi dari kedua orangtuanya “Hayoo, SMP siapa ini?” lalu kami menjawab, “Malika”.

Lalu apa yang seru, haru, atau menyenangkan dari bersama-sama anak menghadapi ujian?

Yang seru rasanya gak ada ya, biasa aja.
Lebih ke terharu sih, karena kalau mengingat perjalanan dia masuk sekolah pertama kali sampai pindah sekolah ke Bandung. Rasanya kok cepat banget. Dan anak – anak kan gak punya beban ya, jadi sekolah selalu terasa menyenangkan buat Malika. Dia gak pernah punya alasan untuk tidak sekolah. Dia tipikal anak yang gak suka bolos. Jadi rada nervous aja kalau nanti SMP, apakah dia masih akan menikmati sekolah. Semoga beban belajar tidak membuatnya jadi kehilangan nikmatnya bersosialisasi dengan teman. Terharu karena anak sudah besar!

Bagaimana peran suami, tugas apa saja yang dibagi selama menghadapi ujian nasional?

Kalau sama saya, Malika gak pernah saya kasih beban belajar yang berat. Lain dengan bapaknya. Reminder-nya lebih kencang untuk belajar, belajar dan belajar. Buat bapaknya sekolah itu penting banget. Apalagi sekolah di sekolah negeri, lulus dan jadi sarjana seperti dirinya. Jadi dia seperti menduplikasi cara didik orangtuanya kepada anaknya. Kalau saya tipikal orang yang percaya bahwa belajar bisa dilakukan kapan saja, di mana saja, serta dengan cara apa saja. Jadi gak pernah bikin Malika stres karena belajar.

Wah jadi ikut tegang membayangkan ujian yang dihadapi anak-anak kelas 6, 9, dan 12. Semoga lancar dalam menjawab soal-soal ujian, buat teman-teman SD, SMP, dan SMA. Oh ya, Ayu juga kerap menulis, kamu bisa baca-baca tulisannya di >>> www.sukamakancokelat.com

 

 



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *