a blog by Galuh

a blog by Galuh

Tante Nana

Tante Nana

Jujur saja, Metro TV tanpa Mata Najwa itu seperti makan nasi timbel tanpa sambel. Inti kenikmatan dalam menyantap makanan hilang.

Bagi generasi yang tumbuh bersama kotak televisi seperti generasi 90-an, menghadapi program berita di televisi pada zaman itu pilihannya hanya dua: menyimak, atau tidak sama sekali. Menonton berita di masa sepuluh sampai dua puluh tahunan lalu sangat berbeda dengan sekarang. Di zaman sekarang, anda dapat menonton berita karena memang butuh berita. Atau bisa juga memenuhi kebutuhan untuk melihat sesuatu yang konyol: kesembarangan dalam etika jurnalisme televisi sampai lakon kampanye para pemilik media massa.

TVRI pernah menjadi penanda waktu tidur. Di waktu-waktu mendekati jam 9 malam itulah, menjelang program Dunia Dalam Berita, saya terkantuk-kantuk menyeret diri ke kasur. Beberapa hal yang paling diingat mengenai program berita TVRI adalah running text dan boks bahasa isyarat di pojok bawah televisi. Sepengetahuan saya keduanya dihadirkan demi membantu pemirsa difabel menyimak berita.

Lalu awal 1990-an menuju pertengahan, muncul RCTI dan menyusul SCTV, keduanya memiliki kelebihan sendiri-sendiri dalam menyajikan berita. Awal 2000 Metro TV hadir mengkhususkan diri sebagai televisi berita.

Semakin mengenaskannya tayangan di televisi akhir-akhir ini membuat masyarakat kecewa karena harus kehilangan program Mata Najwa. Talkshow seperti Mata Najwa tidak hadir setiap saat dalam dunia televisi Indonesia. Tak banyak yang mampu bertahan bertahun-tahun hadir di layar kaca dan mendapat tempat di hati penontonnya. Bahkan di hati narasumber acaranya!

Iya, setiap habis menonton Mata Najwa saya mendadak merasa sedikit lebih pintar daripada biasanya. Ada juga kesal-kesalnya, kadang-kadang ingin mites narasumber antagonis. Hah! Tidak mau lama-lama bersedih merasa kehilangan karena, yang kehilangan Mata Najwa dan tante Nana di pertelevisian bukan saya sendiri. Semua orang pasti mendoakan yang terbaik untuk sosok seperti Najwa Shihab.

Yang pasti, anak kami selalu ingat tante Nana. Tayangan Mata Najwa muncul pada pukul 20.00, jamnya kami naik kasur, walau tidak selalu langsung tidur. Jika menonton Mata Najwa, Daya akan menemani. Kadang hingga selesai, kadang tidak, kadang dia sendiri yang bilang “mau nonton tante Nana.” Tentu saja sembari melakukan kegiatan lain, entah menggambar, ngobrol sama boneka, atau ngacak-ngacak ruang TV.

Akhir bulan lalu, tante Nana berkunjung ke Tirto. Kebetulan Daya sedang ada di sana. Saat putri Prof. Quraish Shihab diajak Zen memasuki ruang redaksi, Zen bertanya pada Daya: “Coba siapa itu yang datang?” Daya langsung menjawab: “Tante Nanaaa!”

Belum lama Zen memberi boneka baru untuk Daya, dan seperti biasa Daya akan memberi nama untuk boneka-bonekanya. Boneka terakhir yang diberikan bapaknya ini ia beri nama Nana, terinspirasi oleh tante Nana.

 



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *