Semut Mengalahkan Gajah

Semut Mengalahkan Gajah

Pada suatu hari, gajah yang tinggal di padang rumput penasaran ingin masuk ke hutan. Padang rumput adalah tempat yang nyaman bagi gajah, namun ia ingin tahu apakah hutan semenyenangkan padang rumput. Gajah muda ini sudah diberitahu oleh orangtuanya untuk tidak memasuki hutan, tapi ia keukeuh.

Gajah remaja berjalan sendirian menuju hutan. Baru sampai di pinggir hutan, gajah tak sengaja menginjak sarang semut di akar pohon besar. Sebagian besar semut mati terinjak. Seekor semut yang selamat merasa kesal. Sarang, keluarga dan teman-temannya mati terinjak kaki gajah yang berdebum-debum menggetarkan itu.

Gajah tak melihat akibat perbuatannya. Semut-semut dan sarangnya terlalu kecil, tak kelihatan. Ia tetap berusaha merangsek masuk ke dalam hutan meski kesulitan karena badannya besar sementara pohon-pohon di hutan rapat. Ia menabrak pohon berkali-kali dan tetap berusaha mencari celah. Melihat hal ini, semut hitam kecil merasa kesal. Menurutnya, bukan pada tempatnya gajah berada di hutan. Sungguh sikap yang memaksakan diri dan menganggu kemaslahatan makhluk hutan lainnya. Semut pun berpikir untuk memberi pelajaran pada si gajah.

Semut mendekati gajah, menaiki badan gajah pelan-pelan tanpa ketahuan. Memanjat dari kaki kiri belakang gajah selangkah demi selangkah sampai naik ke punggungnya. Begitu sampai di atas punggung gajah, semut berpikir mana yang lebih baik, apakah mencubit pantat gajah atau memukul kepalanya. Instingnya menuntun untuk berjalan menuju kepala gajah. Secepat itu saja dia bergerak, karena tak boleh berlama-lama, bisa-bisa gajah keras kepala ini mengganggu makhluk hidup lainnya dan berakibat bencana. Begitu pikir si semut.

Saat tiba di atas kepala gajah, semut berpikir kembali mana yang lebih baik. Apakah menuju ke mata gajah untuk mencoloknya, menuju ke telinga mengorek-ngorek, atau sedikit lebih jauh masuk ke belalai dan menggelitikinya. Ia ingin membuat gajah jera.

Jika menuju ke mata yang terdekat, ia bisa mengganggu penglihatan si gajah dan gajah akan terseok-seok berjalan sampai terjatuh ke tanah. Kalau masuk ke telinga, gajah akan mengibas-ngibas telinganya. Mungkin saja gajah terganggu dan berbalik memutar arah kembali ke padang rumput. Tapi sepertinya mengganggu telinga gajah tidak begitu efektif karena bisa-bisa malahan semut terlempar karena kibasan telinga dan gajah tak sempat kapok. Dipikir-pikir lagi, menggelitiki belalai gajah bisa jadi lebih efisien meski agak jauh sedikit karena harus turun menuju lubang belalai. Namun gajah akan bersin-bersin. Tidak akan terlalu melukai si gajah, dan bersin gajah sekaligus melempar semut keluar. Ini lebih baik karena gajah tidak akan mengetahui apa yang mengganggunya. Semut bisa cuci tangan atas perbuatannya.

Semut pun dengan penuh semangat perjuangan memasuki belalai gajah. Benar saja, langkah gajah langsung oleng karena ia merasakan geli pada belalainya. Pun ia tak mampu mengatasi makhluk kecil yang ada di dalam. Yang bisa ia lakukan hanya bersin! Bersin sekali, semut masih berkutat di dalam belalai. Bersin kedua, gajah terjatuh menabrak pohon sampai patah. Bersin ketiga, semut terlempar dan gajah pun terjatuh.

Semut selamat. Semut kecil menunggu beberapa saat, melihat gajah yang berusaha bangkit dari tanah. Gajah terjerembab. Syukur ia tak telentang karena di kanan dan kirinya tertopang oleh pohon. Coba kalau sampai terjerembab seperti kecoa terguling, ia akan sangat kesulitan bangkit dan tak ada makhluk yang bisa menolongnya untuk dapat berdiri kembali. Malah bisa-bisa ia dimakan oleh macan atau harimau hutan hidup-hidup.

Dengan susah payah, gajah berhasil berdiri. Gajah pun kapok lalu menerobos pulang ke padang rumput. Semut bersorak dalam heningnya hutan. Ia telah berhasil mengusir gajah.

 

Diceritakan secara spontan sebelum tidur, mengapa dalam permainan suit, saat kelingking (semut) bertemu jempol (gajah) berarti semut menang.

 

 

 



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *