Fabel Aesop: Pedagang Garam & Keledai

Fabel Aesop: Pedagang Garam & Keledai

Suatu pagi di musim semi, seorang pedagang dengan sigap menaruh tas-tas garam di punggung keledainya. Ia hendak membawa tas-tas garam itu ke pasar dan menjualnya di sana. Pedagang dan keledai kemudian berjalan bersama-sama menuju pasar.

Belum terlalu jauh berjalan, mereka telah tiba di pinggir sungai di sisi sebuah jalan. Malang, keledai terpeleset dan jatuh tercebur ke sungai. Si keledai lalu mendapati bahwa beban berat tas-tas garam di punggungnya menjadi ringan. Garam-garam tersebut larut ke air.

Tak ada yang dapat dilakukan si pedagang kecuali kembali ke rumah. Ia kembali mengisi tasnya dengan garam lagi. Lalu mereka kembali berjalan melewati rute sebelumnya. Di sisi sungai yang sama, keledai lagi-lagi terpeleset ke sungai dan merusak bawaan garam untuk kedua kalinya.

Si pedagang dengan cepat menyadari bahwa ini hanyalah akal-akalan keledai. Mereka lalu kembali ke rumah, namun pedagang mengisi tas-tas tidak dengan garam melainkan dengan spons. Keledai yang berpikir siasatnya akan berjalan mulus berencana melakukan hal yang serupa. Saat tiba di pinggir sungai untuk ketiga kalinya, ia menjatuhkan diri lagi ke sungai. Namun bukan bawaannya menjadi ringan, malah menjadi lebih berat.

Pedagang tertawa terbahak-bahak dan berkata, “kau keledai licik, siasatmu sudah ketahuan. Kau harus tahu, mereka yang terlalu pintar kadang termakan oleh kepintarannya sendiri.”

 

 

Disarikan dari The Salt Merchant and his Donkey, fabel klasik Aesop (Yunani, 620-564 SM).



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *