is in the house

On the Road: Rasakan Dentumnya!

On the Road: Rasakan Dentumnya!

Sekitar tujuh tahun lalu, saat keseharian diisi dengan pacaran, kerja serabutan, maraton film, dan kemewahan-kemewahan lain dalam menghabiskan waktu, saya sempat berusaha menerjemahkan On the Road. Keren banget kayaknya, gaya-gayaan amat menerjemahkan novel macam begitu. Padahal, mah, ya, karena kebanyakan waktu selo, enggak banting tulang cari duit, sekadar cukup buat makan, beli rokok, dan (sesekali) ngebir. Ckck… masa muda!

Menerjemahkan teks bahasa Inggris jelas bukan keahlian saya, bisa dikatakan tidak ada hubungannya dengan disiplin keilmuan. Pernah, sih, mengajar bahasa Inggris, tapi itu juga bahasa Inggris dasar untuk anak-anak SD. Apa lagi dengan jejak interpreting bahasa Cina yang, paling mentok, dipraktikkan di pabrik-pabrik industri, sumpah enggak ada hubungannya! Dan lalu proses penerjemahan suka-suka itu mandek di halaman kesekian bagian pertama.

On the Road adalah bagian dari obral-obrol ngalor ngidul bersama Zen. Lama kemudian, saat versi film besutan Walter Sellers dirilis pada 2012, saya baru ngeh bahwa Buku Banana sudah mengantongi hak penerjemahan On the Road. Waw, kusuka! Kalau tidak salah ingat, buku pertama Banana yang saya baca adalah Catcher in the Rye karya JD Salinger. Jadi, pertengahan tahun ini, saat mendengar bisik-bisik tetangga bahwa On the Road sudah selesai diterjemahkan oleh Banana, saya tak sabar menantinya.

Penantian itu mungkin membuat Mas Risdi dari Buku Banana gengges karena harus menjawab pemesan buku yang berkali-kali menanyakan, “Mas, kapan bukunya dikirim?”, “Mas, kapan bukunya sampai?”, “Mas, bukunya sudah sampai, terima kasih.” *cium tangan paman Yusi*

Saya memilih membaca On the Road (kembali) saat sekitar 30an orangtua yang lain mengisi jam menunggu anak sekolah dengan kegiatan mengaji. Sama-sama membaca, tapi saya tidak cukup saleh untuk ikut pengajian Al-Quran. Ampuni aku, ya Tuhan. Kau tahu, kan, kalau aku juga membaca-Mu? Saya pun memilih membaca Kerouac.

Lalu apa yang terjadi saudara dan saudari? Membaca On the Road tujuh tahun lalu saat masih lajang dengan sekarang saat kondisi sudah beranak memberi hikmah yang berbeda. Astaga hikmah! Tapi memang sensasinya lain. Rasanya sangat lain.

Novel On the Road berkisah tentang persahabatan Sal Paradise (Jack Kerouac) dengan alter egonya: Dean Moriarty (Neal Cassady) yang berlangsung setelah Perang Dunia II berakhir. Saya enggak ngerti juga, sih, bagaimana tumbuhnya persahabatan antar lelaki seperti itu. Apa lagi, bisa dibilang, mereka baru kenal banget. Kok bisa langsung cocok dan dalam sekejap memutuskan untuk melakukan perjalanan panjang menyusuri Amerika bersama-sama. Mungkin ya, ini cuma mungkin, mereka sudah saling mengetahui dari mutual friend-nya, si Carlo Marx (Allen Ginsberg). Gak mungkin, kan, mereka mengenal satu sama lain via internet. Dan mungkin saking meyakinkannya Carlo Marx bercerita tentang keduanya, cukup membuat satu sama lain merasa dekat. Sama kayak zaman sekarang, seseorang merasa akrab dengan orang lain nun jauh di sana karena sudah sering membaca atau mendengar celotehan satu sama lain sebagai warganet. Dan saat pertemuan pertama langsung nyambung, macam listrik memercikkan jiwa-jiwa bromance.

Bagi yang merasa “beradab”, bisa jadi novel ini tidak menarik sama sekali, bahkan mungkin menjijikkan. Dari awal sampai akhir isinya penuh dengan pemuda-pemudi ugal-ugalan, mabuk (alkohol dan narkoba), ngeganja, sumpah serapah, ngeseks, threesome, homoseks, kerja cari uang buat hari ini, enggak ada duit ya mencuri, dan tak ketinggalan jajan ke pelacuran.

Saya tidak sedang merangkum On the Road, mengurai sinopsis, bicara tentang pengaruh On the Road, memberi hikmah dan amanat, panjang amat, bok! Belum lagi ngomongin generasi Beat, bisa jadi postingan tersendiri.

Yang jelas, rasanya berbeda sekali membaca On the Road saat kekacauan mendatangi hidupmu karena hasrat memberontak terhadap nilai-nilai di rumah dan aturan yang mengiringinya dibandingkan dengan membacanya kembali saat kekacauan sehari-hari timbul karena cicilan dan tagihan, mainan yang berserakan, piring kotor yang menumpuk, baju-baju yang belum disetrika, dinamika kebaperan hubungan orangtua-anak, juga kemacetan selatan Bandung yang terjadi hampir setiap hari. Dulu, rasanya romantis saja naik bis keliling Jakarta dan pergi ke kota lain. Kalau sekarang, sih, aduh naik pesawat sajalah!

Jika generasi pasca Perang Dunia I disebut sebagai Generasi Lost, generasi pasca Perang Dunia II (tepatnya di Amerika) disebut Generasi Beat. Bisa saja “Beat” dimaknai sebagai dentum(an), namun “Beat” dalam konteks On the Road merujuk pada Beatnik. Juga merujuk pada Beatifikasi, istilah dalam Katolik untuk proses penyucian orang yang sudah meninggal.

Yup! Novel ini ditulis dengan bahan-bahan dari anak muda generasi pasca Perang Dunia II. Iyalah, gak kebayang jalan dari satu kota ke kota lain dengan cara hitchhike, menumpangi bis, nebeng truk, memberhentikan mobil pribadi, dan tentu saja merampok mobil orang lain. Yang kebayang saat ini, saat membaca On the Road dalam situasi yang lain, malah truk-truk, tronton, truk tangki minyak, dan molen beton di jalan-jalan Bandung Selatan yang sempitnya masyaoloh. Cuma karena ketololan pemerintah saja hal ini bisa terjadi: pabrik-pabrik industri hidup berdampingan dengan area pemukiman.

Oops! Saya menyalahkan pemerintah! Hey, lakukan selagi bisa. Oya, terkecuali bagian merampok mobil, saya melihat semangat bisnis taksi online dan nebeng online persis dengan numpang kendaraan ala masanya Kerouac. Sungguh visioner sekali pemuda pemudi tahun 50-an ini.

Kerouac melakukan perjalanan bersama Cassady dan kawan-kawan selama kurang lebih lima tahun sampai akhirnya ia menulis On the Road dalam waktu tiga minggu saja! Anda bayangkan, 36 meter kertas yang tak terpotong dihunjami huruf demi huruf dari mesin ketik selama tiga minggu, nyaris tanpa henti, kecuali saat tidur, makan, atau mungkin ke WC. Spontanitas macam apa yang merasukinya? Menulis tanpa henti siang malam ditemani rokok dan kopi. Kayaknya cuma rokok dan kopi, sih, tolong dipercaya saja, kalau enggak percaya silakan baca ulasan lain.

Naskah novel tidak langsung diterima penerbit, sempat ditolak karena spontanitas rasa bahasanya. Anda tahulah, ya, yang dimaksud spontanitas itu bagaimana? Banyak makian, umpatan. Gara-gara kata-kata jorok, On the Road yang ditulis pada April 1951 ini baru bisa terbit pada 1957. Diterbitkan oleh Viking Press. 6 tahun, euy. Lama nian!

Meski lama sekali, Kerouac dan sejawatnya yang membaca On the Road, kok, ya, percaya diri banget dengan kualitas novel ini. Berarti bisa dibilang mereka objektif, bukan sekadar karena pertemanan lalu ngomong yang bagus-bagus saja mengenai karya teman.

Dan, hey, mereka memang tidak salah. Begitu terbit, novel ini dibahas di mana-mana. Bukan tren sesaat, melainkan terus dibicarakan bertahun-tahun kemudian sejak On the Road rilis. Kerouac sampai stres sendiri. Kenapa stres? Karena jadi terkenal? Ayee, meski laris dan membakar gelora anak-anak muda; ya, enggak semuanya juga suka kaleee. Yang kritik pedas dan komentar tajam juga banyak. Truman Capote bahkan berseloroh, “it’s not writing (On the Road), it’s typing.” Makjleb!

Pasalnya, meski sempat rajin meladeni pers, Kerouac kecewa sekian kali karena merasa sering disalahsangkai. Semua orang fokus pada semangat hidup berapi-api yang diusung oleh Dean dan terpengaruh olehnya. Kerouac bahkan ditahbiskan sebagai sebab berubahnya haluan cita rasa anak-anak muda pasca On the Road. Yang demikian itu dinisbatkan pada Dean, karakter alter Kerouac (Sal Paradise). Dia sendiri mengaku sangat konservatif bahkan spiritualis. Kalau tidak karena spirituil, tidak akan dia sibuk dengan perjalanan pencarian jati diri dan bersimpati pada sosok hedon egois Neal Cassady (Dean Moriarty). Begitu pledoinya Kerouac.

Satu hal yang tetap saat membaca On the Road adalah Dora. Rasanya saya ingin minta ditemani Dora setiap kali membaca On the Road. Tolong Dora, gelar peta Amerika Serikat! Sal dan Dean bolak balik nge-trip dari Timur ke Barat, Barat ke Timur, Utara ke Selatan, balik lagi dari Selatan ke Utara. Buat yang tidak pernah ke Amerika kayak saya ini bisa saja tersesat mengikuti Sal dan Dean, karena itu kita butuh Dora dan petanya. Mudah saja, sih, mencari tahu sejauh apa jarak antara New York-San Fransisco, atau jarak Denver-Mexico, tapi perjalanan bukan tentang pangkal dan ujung.

Begitu pula yang dirasakan saat On the Road selesai dibaca: Yaelah, kok sudah selesai, sih? 🙁

Bicara tentang travel writing, novel “Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas” rasanya lebih masuk untuk konteks kekacauan di Indonesia bagian Swansea. Tapi tentu saja On the Road tetap penting. Apa pentingnya? Coba cek celana jins di lemari pakaian. Coba juga buka kitab-kitab agama, banyak enggak ayat yang bicara tentang perjalanan? Kalau enggak mau saya simplifikasi bahwa agama adalah catatan perjalanan (pilgrim). Merujuk Islam, tugas manusia di muka bumi adalah sebagai kafilah (pejalan), maka dari itu: Go to the road! Hajj!

Oya, Kerouac bertemu dengan Neal Cassady, William Burrough, dan Allen Ginsberg berkat kuliah di Universitas Columbia. Cool, huh? Ia masuk ke universitas Columbia berbekal GI Bill yang didapat karena pernah berbakti kepada negara dalam perang dunia kedua. GI Bill adalah tunjangan beasiswa yang dirancang Presiden Roosevelt untuk para veteran perang PD II. Kayaknya ide bagus juga bermimpi anak masuk Universitas Columbia. Kerouac sealmamater atuh dengan Cincha Laura?

Ya jadi orangtua tuh begini ya, dulu baca On the Road yang dibayangkan menyusuri pulau Jawa bersama pacar. Kalau sekarang sih, “bagus juga ya kalau anak kuliah di Columbia.” Ayok menabung buat dana pendidikannya 😀

Pokoknya beli saja On the Road di Buku Banana dan rasakan dentumnya!

 

 

Judul: Di Jalanan (On the Road)

Hak Penerjemahan: Penerbit Buku Banana

Alih Bahasa: Noor Cholis

Penyunting: Yusi Avianto Pareanom

436 Halaman

Cetakan Pertama, Juni 2017

 

 

 

 



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *