is in the house

Mengenal Minat Anak

Mengenal Minat Anak

Jamak jika anak diajak melakukan kegiatan yang dikenal oleh orang tuanya.

Saya punya teman yang berasal dari Aceh, ia memperkenalkan bahasa Aceh untuk anaknya sebagai kegiatan sehari-hari. Ada teman yang hobi fotografi, anaknya yang baru berusia tiga tahun sudah diijinkan memegang kamera dan diajarkan bagaimana menggunakannya secara sederhana. Orangtua yang terbiasa berkarya dengan tangannya, apakah menjahit, memasak, atau menggambar, akan cenderung mengajak anak melakukan hal yang sama. 

Mengapa itu dilakukan? Ya, karena memang itulah yang sanggup dilakukan sang orangtua: memulai dari yang paling dekat, memulai dari yang ia bisa dan terbiasa.

Dalam perkembangannya, bapak dan ibu melihat kecenderungan minat anak serta bagaimana cara anak belajar bermain. Dan cara orangtua memfasilitasi kebutuhan belajar anak bisa beragam. Orangtua yang tidak crafty, namun anaknya menyukai kegiatan motorik halus, bisa saja terdorong untuk melatih crafty skill-nya. Jika tidak, melibatkan anak dalam kelompok kegiatan craft juga tak apa. Ada teman yang tak bisa berenang, namun karena anaknya suka berenang, ia pun berusaha belajar berenang. Begitulah, dalam hubungan orangtua–anak, masing-masing pihak sama-sama belajar.

Saya ingin berbagi sedikit pengalaman saya. Daya, anak kami yang kini berusia 5 tahun, belajar sangat cepat melalui aspek linguistik dan kinestetik. Aspek verbal dan motorik kasarnya jauh melesat bila dibandingkan motorik halusnya. Dan dia membutuhkan penyaluran atas kecenderungan-kecenderungannya itu.

Syukurlah, saat ia masih usia playgroup, kami merasa sangat terbantu oleh sekolah playgroup-nya yang kami nilai mampu berkomunikasi dengan baik. Kami dan pihak sekolah playgroup berdiskusi mengenai apa yang menonjol dan aspek apa yang perlu diberi distimulasi lebih dari anak kami. Dari situ saya berusaha mengenal lebih jauh ilmu perkembangan anak. Mengenal lebih jauh tentang tujuh indra, juga delapan kecerdasan majemuk. Saya akan merujuk dua buku dalam hal ini.

Keajaiban Tujuh Indra – Rumah Dandelion, 2016
Saya mengetahui indra vestibular dan indra proprioseptif dari Ibu Ema, Kepala Sekolah Playgroup Pelangi Cilik. Buku Keajaiban Tujuh Indra membantu saya memahami dengan lebih tentang dua indra ini. Buku itu menjelaskan bahwa indra tak hanya ada lima, tapi tujuh, plus vestibular dan proprioseptif.

Pada umumnya kita mengetahui indra ada lima: indra pendengaran, penglihatan, penciuman, peraba, dan perasa. Lima indra ini mendapat rangsang dari luar tubuh. Sementara yang dua, vestibular dan proprioseptif, mendapat rangsang dari sisi internal tubuh.

Indra vestibular terkait pergerakan dan gravitasi, kemampuan anak dalam mengkalkulasi gerakan yang ia lakukan, efeknya, reaksi menghadapi dorongan, dan lainnya terkait koordinasi dan keseimbangan. Sementara proprioseptif terkait sendi, otot, segala sesuatu yang terkait kesadaran tubuh. Posisi anggota tubuh serta posisi seseorang dalam lingkungan, serta besarnya kekuatan yang diperlukan untuk melakukan suatu gerakan.

Bakat Bukan Takdir – Bukik Setiawan, 2016
Buku ini merupakan buku kedua Bukik Setiawan, kelanjutan dari buku pertamanya Anak Bukan Kertas Kosong. Bukik Setiawan adalah psikolog dan aktivis pendidikan anak. Ia banyak memberikan cara pandang baru untuk orangtua dalam mendampingi perkembangan anak. Dalam buku ini diperkenalkan delapan kecerdasan majemuk manusia dan bagaimana menstimulasinya. Stimulasi akan selalu berubah seiring bertambahnya usia anak. Stimulasi untuk balita metodenya berbeda dengan anak usia SD.

Kegiatan Bermain
Setelah mengenal ketujuh indra dan delapan kecerdasan majemuk, apakah Anda sudah bisa menganalisa anak Anda menonjol dalam aspek apa? Dan bagaimana minatnya?

Anak-anak dengan rasa ingin tahunya yang besar, tentu memiliki energi yang kuat untuk memenuhi rasa ingin tahu. Dan bermain sejatinya adalah cara anak dalam belajar. “Play is the highest form of research,” kata Einstein.

Masalahnya, minat anak tidak dapat langsung disimpulkan dalam waktu singkat. Perlu trial berkali-kali dan ketelatenan yang tidak boleh gampang patah. Dengan menyadari bahwa minat anak terus berkembang, berubah, dan semakin mengerucut seiring pertumbuhannya, orangtua tidak perlu putus asa jika sudah memeperkenalkan anak dengan kegiatan tertentu, lalu ia tak setekun yang diharapkan. Tak perlu kecil hati kalau sudah mahal-mahal membayar kursus piano lalu anak minta berhenti. Karena anak berhak memilih hal lain yang ingin ia lakukan.

Berikut sedikit dari banyaknya kegiatan bermain yang dapat dilakukan, lagi-lagi berdasarkan pengalaman pribadi saya:

Bercerita
Bercerita (story telling) adalah berbahasa, insting mula-mula dalam relasi anak-orangtua. Sepertinya tidak ada anak yang tak suka mendengarkan cerita orangtuanya tentang apa saja. Anak selalu ingin mendengarkan apa yang dikatakan orangtuanya tentang berbagai hal. Bicara, bercerita, dengan difasilitasi oleh medium apa pun, dengan bahasa apa pun, akan selalu dinikmati oleh anak.

Bahkan kalau orangtua mengarang sendiri ceritanya sekalipun. Tak perlu berkecil hati dengan perasaan tidak mampu bercerita, atau tidak berbakat mendongeng, atau tidak mampu mengarang cerita yang bagus. Bagi anak, cerita apa pun dari orang tuanya akan sangat berharga. Tentu keterampilan bercerita itu akan sangat baik kalau juga diasah, tapi percayalah: bercerita dengan anak jauh lebih baik daripada tidak sama sekali.

Biasanya dalam sesi bercerita dapat berkembang menjadi sesi diskusi, terutama saat orangtua memberi kesempatan anak berbicara. Dalam sesi bercerita yang tidak satu arah (orangtua ke anak), maka anak akan mudah diminta berkisah atau mengungkapkan pendapatnya.

Bernyanyi
Kalau pun suara Anda tidak enak didengar, yakinlah, cukup dengan rasa percaya diri yang sedikit dilebih-lebihkan, anak Anda akan menikmatinya. Neneknya Daya suka sekali mengarang lagu dengan spontan. Satu kalimat saja disenandungkan dengan nada yang dikarang-karang, sudah membuat anak terkesan. Daya ingat lagu karangan-karangan neneknya, lagu asal-asalan, dengan lirik yang kadang berantakan.

Masak-masakan
Izinkan Anak terlibat dalam “tugas” orangtua memasak di dapur. Tak perlu takut kotor, karena anak dapat melatih soft skill-nya dengan membantu memasak. Selain itu ia akan belajar menghargai makanan yang dimasak, tidak hanya tahu beres dan diharuskan untuk makan masakan rumah yang sudah tersaji.

Kelebihan lain lagi, ia juga akan belajar berkemas dengan kewajiban membereskan sisa-sisa sayuran yang sudah dipotong. Bahkan mengenal bahan-bahan masakan. Anda dapat bercerita tentang bawang, tentang cengkeh, sayuran, ayam, sapi, serta bumbu dan bahan memasak lainnya.

Mainan dari barang bekas
Sampah rumah tangga menduduki peringkat pertama dalam statistik produksi sampah. Gunakan barang-barang bekas pakai yang memungkinkan untuk mengajarkan tentang daur ulang. Juga sebagai bahan membuat mainan. Kreativitas anak akan terstimulasi, dan sensitivitasnya tentang aktifitas konsumsi akan terasah. Anak pun melihat bahwa mainan bukan sesuatu yang harus selalu dibeli.

Menari
Mulanya adalah joged, selanjutnya terserah anak dan orangtua. Anda bisa mengikutsertakan anak dalam sanggar atau studio tari. Tradisional, klasik, atau moderen, semua kemungkinannya bisa dipertimbangkan. Sangat butuh coba-coba. Intinya: bergerak, diiringi lagu. Karang-karang saja gerakan. Bisa meniru gerakan tari di Youtube. Yang penting kira-kira bisa menarik dan mudah diikuti oleh orang tua maupun anaknya.

Senam
Kota Bandung memiliki banyak taman. Tak hanya area yang luas bisa dieksplorasi oleh anak, taman-taman tersebut banyak memiliki fasilitas bermain anak. Anak dapat mengasah motorik kasarnya dengan bermain ayunan, bergelantungan, memanjat, berjalan meniti, dan lain-lain.

Menggambar
Tahukah anda banyak jenis aksara yang ada di muka bumi ini mulanya adalah gambar? Apresiasi usaha anak mengekspresikan imajinasinya dalam media dua dimensi. Warna warni atau pun monokromatik.

Berenang
Anda bisa mulai dengan bermain air di bathtub, di kolam kecil kalau punya, bahkan hanya dengan berendam di ember besar, atau mengunjungi baby spa sekali pun. Tak ada salahnya mengajak anak bermain di kolam renang terdekat sedini mungkin. Tidak hanya sehat untuk fisiknya, berenang juga melatih kepercayaan diri dan keberanian.

Dalam berenang anak diberitahu bahwa tak perlu menaklukkan sesamanya untuk merasa berani, tapi menaklukkan dirinya sendiri. Dan biasanya setelah berenang orangtua tidak perlu pusing dengan sesi makan, berenang menimbulkan rasa lapar. Waktu istirahat anak pun seringkali jadi lebih maksimal berkat berenang.

Jalan kaki atau berkemah
Kontur tanah yang tak rata, tanah becek, bersentuhan dengan pohon, rumput, dan tanaman-tanaman, sangat baik untuk perkembangan ketujuh indra. Tak perlu setiap minggu jika memang orangtua tak punya waktu. Namun sesekali mengagendakan blusukan ke hutan kecil, atau kebun di pinggir kota, akan mengesankan.

Masih banyak lagi kegiatan bermain yang dapat dilakukan. Ada 1001 macam cara anak belajar dengan bermain (bersama orangtua). Orangtua tak sepenuhnya tahu usahanya akan berujung pada hasil seperti apa. Yang dapat dilakukan adalah sama-sama belajar, membuat harapan dan rencana, menjadi wadah untuk anak bernaung. Ayo share kegiatan bermain anda bersama anak!

 



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *