is in the house

Mbak Titis. Eh, Mastitis!

Mbak Titis. Eh, Mastitis!

Meramaikan World Breastfeeding Week 2018 (1 -7 Agustus setiap tahun), AIMI Jabar mengadakan Breastfeeding Festival 11-12 Agustus. Melalui Bubi Ari, saya diminta sharing mengenai pengalaman mastitis saat menyusui. Wah, peristiwa itu sudah enam tahunan lalu saat Daya masih berusia satu bulan. Tapi gak kan pernah lupa sih, gak susah juga buat me-recall kejadian tersebut. Karena ku tak ingin hal itu terjadi lagi. Hooaaaa…

Judul acaranya “Our Breastfeeding Journey: Jatuh Bangun Membangun Fondasi Buah Hati.” rasanya langsung pengen nyanyi dangdut, ehehe… Well, saya dipanel buat sharing bareng Dr. Laila, Drg. Eska, Teh Pepew dan Kang Ulum, dengan MC Mbak Mawar. Pasangan Teh Pepew dan Kang Ulum bercerita tentang bagaimana bekerjasama untuk aktifitas sukses menyusui. Drg. Eska berbagi tentang pengalamannya dalam relaktasi. Heee… saya baru tahu proses relaktasi gak gampang juga. Sementara Dr. Laila memberi masukan-masukan dari perspektif ahli.

Mastitis yang saya alami dimulai dengan clogged duct a.k.a penyumbatan, penyebabnya bisa jadi perlekatan yang gak pas. Sempat ikut kelas ASI saat hamil gak lantas bikin jadi fasih menyusui guuyysss. Pengalaman di lapangan lebih challenging :)))

Saat terjadi clogged duct, aliran ASI tidak lancar di satu titik lalu payudara membengkak. Dalam kasus ini payudara kiri, posisi di cleavage. Clogged duct ini jadi parah karena saya agak-agak meremehkan hehe… Volume ASI banyak, sampai bosan karena rutinitas didominasi dengan nyusuin-perah-nyusuin-perah. Dengan begini bikin sombong, percaya diri yang penting ASI banyak udah beres. “Nyusuin aja terus nanti juga kempes. Dipijet-pijet nanti juga hilang.” Ternyata gak gitu yaaa. Karena saat itu clogged duct gak langsung diatasi serius misal dengan menemui konselor cepat-cepat untuk mendapatkan solusi, bagian itu malah makin mengeras. Mulai demam panas dingin, makin merah, kulit mengelupas berupa lembaran-lembaran tipis.

Emang dasar ya sok jago, udah sakit begitu bukannya langsung ke dokter. Padahal ternyata penyakit ini berkejaran dengan waktu. Lebih cepat ditangani jauh lebih baik, makin diundur-undur cepat sekali jadi parah. Dari clogged duct jadi abses lalu jadi mastitis cuma beberapa hari. Saya akhirnya memutuskan menemui konselor saat sakitnya sudah seperti ditusuk-tusuk jarum. Gak satu jarum, tapi banyak. Rasanya tuh sakit banget sampai-sampai lagi tidur saja bisa terbangun karena kaget dengan rasa tusukan jarum-jarum di payudara.

Saat mengontak bidan Okke yang membantu melahirkan di Galenia, saya langsung diarahkan untuk konsultasi dengan konselor AIMI (Bubi Ari). Bubi Ari sempat mencoba memijat, tapi sudah gak bisa karena bengkaknya sudah level mastitis, saya harus cari dokter. Sempat kontak Dr. Stella Tinia, dokter Stella mengarahkan untuk menghubungi Dr. Frecillia Regina (Sp.A yang juga konselor laktasi). Hasil komunikasi dengan Dr. Frecil, saya disarankan untuk langsung menemui dokter bedah. Penanganannya bisa dua: disuntik untuk disedot atau ya operasi besar dengan membuang bagian tersebut.

Esoknya, dalam satu hari kami berusaha menemui tiga dokter bedah. Dokter bedah pertama yang ditemui langsung menyarankan untuk operasi dengan catatan: harus berhenti menyusui. Aku menangyyysss… ya gimana ya bok, kumaha carana berhenti nyusuin sementara anak ga terlatih buat minum susu formula dan ngedot. Iya deh kalau akhirnya si anak bisa, lha payudara eijk yang bengkak gini kalo berhenti nyusuin apa gak tambah bengkak? 🙁

Kemudian kami cari second opinion dokter bedah di RS Santosa. Pass! Karena jadwal temu dokternya masih lama. Kami lalu meluncur ke RS Al Islam. Pokoknya hari itu cepet-cepetan cari onkolog tanya sana sini. Kami bertemu dengan Dr. Syafwan di RSAI, dan tindakan sama: operasi. Beliau lumayan bikin tenang, menurutnya saya tidak perlu berhenti menyusui karena lokasi mastitis bukan di puting. Pasca operasi tetap bisa menyusui, paling selama rawat inap nanti payudara tetap diperah saja, sementara anak dititip dulu.

Titip ke siapaaaaa? Maklum perantau di kota Bandung, helper harian memang job desk-nya cuma bebersih rumah, ga available buat jaga bayi. Keluarga juga gak ada. Kami lalu meminta bantuan Maulida dan Bima untuk menjaga Daya beberapa hari, sekaligus minta tolong Maulida buat menyusui Daya. Solusi ini yang paling mungkin karena Daya saat itu masih serba nyusuin langsung dari nenen. Maulida pun jadi ibu susunya Daya. Kami punya foto Maulida sedang menyusui anaknya (Amartya, saat itu 14 bulan) dan Daya, di kanan dan kiri payudaranya. Ada juga foto Bima sedang memandikan Daya. Sementara aku di RS, dan Zen bolak balik rumah mereka – rumah sakit.

Pasca operasi kami mengontak konselor untuk datang ke RS, mengajarkan cara memijat juga memerah yang aman karena ada perban. Juga perlekatan diperbaiki. Saat rawat inap, Zen gak bisa setiap saat menemani karena dia harus membagi diri, Daya juga kan nyariin orangtuanya, plus nyambi kerja. Zen meminta tolong Riphan dan Baihaqi untuk bergantian menjaga saya di RS. Ya ampun gak akan lupa sama om-om-nya Daya yang baik hati ini :”) saat beberapa hari dirawat inap dan perlu memerah, mereka membantu mengamankan botol-botol ASIP.

Pengalaman berharga ya buuuu. Jadi pelajaran banget. Dan alhamdulilleh pasca operasi masih tetap bisa menyusui. Bahkan memberi donor ASI ke beberapa anak yang membutuhkan. Thank you AIMI Jabar for having me. Semoga ngobrol-ngobrolnya bisa bermangpaat.

 

 

 

 



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *