LDR-an dengan Papin

LDR-an dengan Papin

Ada banyak sekali blog, website, forum diskusi parenting yang diampu dari, oleh, dan untuk Ibu. CMIIW. Perempuan yang berkisah tentang bagaimana khusyuknya Ibu menjalankan tugas membesarkan anak dan me-manage keluarga seperti tak habis-habisnya. Seperti yang kita ketahui, urusan parenting tidak hanya soal Ibu-anak.

Parenting is a teamwork, kerja sama. Kerjasama dengan banyak pihak, dengan anak, nenek-kakek, keluarga besar, tetangga, sekolah, dan pihak-pihak lebih luas lagi. Perempuan lazim saja memiliki support group sesama ibu dalam berbagai media. Di whatsapp group, di tongkrongan sekolah, atau di warung sebelah rumah. Apakah sesama bapak juga memiliki semacam whatsapp support group yang awalnya berkumpul dimulai dari lika liku perannya sebagai orangtua?

Melalui blog ini saya ingin mendengar suara dari bapak-bapak yang menikmati dan mengkhidmati perannya sebagai orangtua. Pasti menarik dan menyenangkan bisa mengetahui perspektif para bapak.

Long distance relationship (LDR) biasanya dimaknai sebagai hubungan jarak jauh antara pria-perempuan. Nah tulisan pertama tentang Bapak kali ini mencoba bertanya kepada seorang Bapak yang LDR-an dengan anaknya. Teuku Ismail, akrab disapa Papin. Sejak sebelum menikah hingga sekarang bekerja di Arab. Setiap dua bulan sekali ia pulang ke Indonesia. Dalam liburnya yang cukup panjang itulah Papin memanfaatkan waktu secara istimewa untuk quality time bersama keluarga. Malik, anaknya yang berusia tiga tahun sudah terbiasa bicara dan nyeletuk dalam bahasa Aceh. Waktu efektif Malik mengenal bahasa Aceh adalah saat bapaknya sedang pulang ke Indonesia.

 

G: Papin tidak setiap hari di rumah, tapi kalau lagi pulang, rajin mengajak Malik bicara bahasa Aceh. Motivasinya apa? Kenapa Malik harus tahu bahasa Aceh?

P: Aku pernah baca di sebuah majalah, banyak sekali bahasa dunia yang sudah hilang. Di keluarga sendiri, generasi di bawahku, tidak banyak yang bisa berbahasa Aceh. Jadi mengajak Malik berbahasa Aceh adalah sebuah usaha kecil menjaga agar bahasa ibuku tidak hilang. Sekalian memperkenalkan dan mengingatkan Malik akan akarnya.

Motivasi lainnya adalah referensi-referensi tentang manfat memperkenalkan multilingual pada anak sejak dini. Karena pekerjaan yang membuatku berinteraksi dengan orang dari banyak negara berbeda bahasa, dan tidak semua bisa bahasa Inggris, ini terasa sekali. Aku sering berpikir betapa mudahnya kalau kita bisa ngomong dengan siapa saja tanpa ada language barrier. Mudah mudahan dengan mengajak Malik berkomunikasi tidak hanya dengan satu bahasa bisa memudahkan dia di kemudian hari belajar bahasa-bahasa lainnya.

G: Lalu bagaimana cara menggunakannya, kok Malik terlihat mudah menyerap?

P: Karena sudah fitrahnya anak-anak kecil bisa cepat menyerap apa yang ia dapat. Dengan Malik sendiri komunikasi pakai bahasa Aceh sudah dimulai sejak dia lahir. Sudah tiga tahunan, walau pun ada jeda setiap aku lagi balik kerja.

Setiap ngomong sama Malik juga pelan-pelan, supaya Malik bisa paham lekuk-lekuk katanya. Terutama kata-kata yang pengucapannya agak susah. Pas ngomong, kalau ada yang Malik tidak mengerti, aku mencari padanan kata dalam bahasa Indonesia yang dia tahu. Terus diulangi, Aceh-Indonesia, Aceh-Indonesia, sampai dia bilang, “ooh!”

G: Apa Malik sudah bisa merangkai satu kalimat dalam bahasa Aceh?

P: Kalimat sederhana sepertinya sudah bisa. Aku bilang sepertinya, karena masih random banget dan jarang. Sekali dua dia pernah menjawabku dengan kalimat bahasa Aceh yang jelas. Ini pun sudah cukup membuat happy karena engga nyangka Malik bakal jawab dengan bahasa Aceh. Pernah ada yang nanya, “Malik sudah bisa bahasa Aceh?” Di luar perkiraan Malik bilang bisa dan menyebut beberapa kata dalam bahasa Aceh seperti “makan” dan “pergi ke pantai.”

G: Apa yang paling Papin suka dari yang diketahui Malik tentang bahasa Aceh? Misalnya, pernah ada pengalaman menyenangkan seperti apa dari celetukan-celetukan Malik?

P: Waktu di Aceh kemarin pas ngumpul di rumah saudara. Lagi pada cerita-cerita lucu dalam bahasa Aceh ngomongin kelakuan salah satu dari kami. Malik yang lagi main tiba-tiba ikut tertawa dan menimpali dengan kata-kata yang dia tahu. Salah satu kakakku bilang ke Malik, “loh, kamu ini kok ngerti?” terus pada makin seru ketawanya. It was funny.

G: Bapak beranak laki-laki, biasanya, tendensinya ingin anak terlihat kuat, jangan cengeng kata orang. Cenderung mendidik dengan keras. Apakah cara seperti itu juga yang diadaptasi oleh Papin bersama Dinda dalam mendidik Malik?

P: Mendidik dengan keras mungkin pemahamannya beda-beda ya setiap keluarga. Kalau keras physically tidak. Aku dan si Ibu sepakat dalam mendidik Malik untuk tegas bila itu menyangkut kewajibannya, seperti membereskan mainannya sendiri, dan memberikan kebebasan yang luas menyangkut haknya. Selama tidak membahayakan dirinya, properti, dan tidak menggangu orang lain.

Tentang cengeng dan menjadi kuat, selama ini kami justru selalu berusaha mengajak Malik mengenali emosinya. Memberikan kesempatan bagi Malik mengekpresikan apapun yang dia rasakan. Marah-marah, boleh. Sedih, silakan. Senang apalagi. sambil membimbingnya bagaimana cara menghadapi atau menyalurkan perasaannya.

Seperti kalau sedang marah, kami memberitahu dan menawarkan bagaimana cara meredakannya, “Bapak/Ibu lihat Malik sedang marah, marah sekali, mau pukul-pukul bantal? robek-robek kertas sampai Malik tenang?” Begitu juga dengan bentuk-bentuk emosinya yang lain. Mudah-mudahan, Insyaallah, dengan tahu apa yang dia rasakan dan tahu apa yang harus dilakukan untuk menyalurkan emosi, Malik bisa siap menghadapi hal-hal di kemudian hari yang bisa jadi tidak sesuai harapannya.

G: Seberapa besar pengaruh cara mendidik orang tua Papin dan penerapannya saat Papin menjadi orang tua?

P: Bapakku cukup keras dan tegas sebagai orang tua. Lumayan sering juga aku kena rotan. Sementara Ibuku sangat memanjakan. Jadilah saya begini. Karena sekarang sudah sangat banyak tersedia literatur tentang parenting, jadi lebih ke hasil baca-baca sana sini yang kemudian diobrolin sama Ibunya Malik. Pengaruh cara mendidik orang tua hampir ga ada kayaknya.

G: Ada engga sih sesuatu yang tidak kesampaian waktu kecil lalu berharap anak dapat melakukannya?

P: I grew up without knowing what I wanted to be. Baru belakangan ini jadi sedikit tahu apa yang ingin aku lakukan dalam hidup.
Aku suka iri membaca banyak anak-anak muda zaman sekarang yang usianya masih dibawah 30 tahun dan sudah berbuat banyak. Tidak hanya berguna bagi dirinya sendiri tapi juga untuk sekitarnya. Misalnya 30 under 30 Socialpreneur yang di-list oleh Forbes. Jadi idealnya aku ingin Malik bisa mengikuti jejak mereka. Berguna bagi dirinya juga bagi bumi dan para penghuninya.

G: Yang sering dibayangkan tentang anak saat lagi kerja?

P: Waktu perjumpaan berikutnya.

G: Biasanya sebelum pulang ke rumah apakah sudah bikin rencana mau main apa saja saat ketemu Malik?

P: Bikin rencana khusus sih engga. Pulang saja dan main. Kalau main sama Malik aku membiarkan dia yang in charge mau main apa, aku ikut. Kadang-kadang tanya pak haji google main apa yang seru. Misalnya sesuatu yang belum pernah dicoba aku suggest ke Malik sambil kasih contoh. Kalau anaknya tidak atau belum tertarik ya balik lagi ikut rencananya Malik. Ketok ketok pipa biasanya. Hahaa…

G: Masih ingat saat pertama kali meninggalkan anak jauh dan lama?

P: Nangis. Waktu itu umur Malik masih sebulanan. Sebelum Malik datang saja kembali kerja itu sudah terasa berat, begitu ada Malik jadilah dobel beratnya. Ada teman kerja yang anaknya sebaya Malik, lebih tua beberapa bulan. Kami nangis bareng. Haha… Dia yang suka menguatkan aku dengan bilang bahwa dia juga merasakan hal yang sama. Ngobrol sama bapak itu bikin aku jadi sedikit lebih tenang.

G: Bagaimana komunikasi selama berjauhan? Frekuensinya sesering apa, biasanya kalau lagi telfonan atau videocall Malik senangnya cerita apa?

P: Ini juga salah satu yang bikin mellow. Kualitas, juga kuantitas komunikasi menurun pastinya. Inginnya bisa telfonan setiap hari, tapi perbedaan waktu empat jam dan koneksi internet kantor jadi hambatan utama. Kadang pas sudah waktu Malik tidur aku masih heboh. Sebaliknya, kadang Malik mau telfonan akunya yang ketiduran 😄 Malik juga tidak terlalu suka ngobrol di telepon. Paling dia hello-hello dan bilang beberapa patah kata, terus sibuk sendiri lagi. Mungkin masih bingung juga mau cerita apa. Jadi begitulah, cerita-ceritanya jadi sama si Ibu.

G: Apa kecemasan terbesar dari LDR-an sama anak?

P: Waktu bersama yang hilang. I missed his first birthday. Cemas akan kehilangan momen-momen berharga lainnya sangat membebani untuk berjauhan. Banyak yang bisa terjadi dalam tujuh minggu. Pun demikian semuanya disyukuri saja. Insyaallah ada hikmah yang baik. Mungkin karena berjauhan, setiap pulang aku jadi sangat bersemangat untuk menghabiskan waktu bersama Malik.

G: Video Malik sama Papin main drum-drum dari ember, kaleng, dan pipa di Instagramnya Dinda seru banget! Kocak dan seru.

P: Iyaa. Momen seperti itu yang membuat jauhnya jarak jadi begitu menyayat. Namun setiap pertemuan adalah perayaan. Mudah-mudahan. Insyaallah.

G: Ada rencana kembali bekerja di Indonesia, supaya bisa sehari-hari bersama anak?

P: Ini adalah keinginan terbesar saat ini, untuk bisa bekerja dari rumah. Aku dan Dinda sedang mengupayakan agar ini bisa segera terwujud. Insya Allah. Amiin. Doakan kami 🙂

 

 

Foto Papin dan Malik oleh Dinda Jouhana

 

 



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *