is in the house

Dinda Jou

Dinda Jou

Waktu bertamu ke rumahnya yang asri dan menginap beberapa hari, Dinda mempersilahkan saya melongok isi rak bukunya. Dinda bercerita bahwa saat membangun rumah, ia harus mengeliminir sebagian besar koleksi buku. Karena membangun rumah juga perlu sekaligus mempertimbangkan mengenai isi rumah, menurutnya, ia harus sangat selektif mengenai barang-barang yang perlu ada dan tidak. Tidak hanya mengijinkan saya membaca dengan bebas, ia juga memberikan lebih dari 10 buku untuk saya bawa pulang. Terkesan dengan kemurahan hatinya, saya tertarik ingin tahu mengenai relasinya dengan kegiatan membaca.

Bersama Dinda Jouhana, cerita tentang membaca tidak lepas dari kegiatan menulis. Ia memiliki riwayat panjang dengan kegiatan tulis-menulis. Pernah bekerja untuk media lokal di Medan, nasional, juga Los Angeles Times biro Jakarta, setahun setelah menikah ia memutuskan untuk berhenti mengantor. Kemudian ia mengembangkan minatnya berbisnis, bahkan merilis buku Mail di tahun 2013 dan menggelar pameran dalam peluncuran buku tersebut. Dinda yang menyukai traveling dan fotografi rajin membuat yearbook perkembangan anaknya. Ia menulis, memotret, bahkan me-layout bukunya sendiri. Ibu dari Malik yang juga mengurus bisnis keluarga di bidang kuliner di Medan ini tertarik mengadaptasi ilmu homeschooling dalam mendidik anak. Ia juga sedang memulai bisnis pakaian. Ditemui dengan hangat di sebuah kafe di Bandung bersama suami dan anaknya, Dinda bercerita tentang hubungannya bersama buku dan tulis menulis.

 

Bergabung dengan unit kegiatan pers mahasiswa (persma) dituntut untuk banyak baca buku, tapi rasanya tidak mungkin seseorang memilih kegiatan pers mahasiswa tanpa memiliki latar belakang kebiasaan membaca lebih dulu. Apa yang membuat Dinda suka membaca?

Tanpa disadari justru awalnya senang menulis. Aku punya banyak diary yang kudapat dari Papa sebagai hadiah ulang tahun. Awalnya memang suka menulis. Dulu, we can not really afford to buy books. Tapi sepupu-sepupu ada yang punya banyak buku, jadi suka ke rumahnya untuk membaca. Enid Blyton dengan Lima Sekawan-nya, lalu ada tempat-tempat peminjaman buku. Senang, karena waktu kecil tidak terlalu suka main, bahkan Mama harus sedikit berusaha mendorongku buat main ke luar rumah. Jadi aku sering di rumah, baca buku, nulis-nulis.

Apa lagi waktu masa puber, remaja, makin rajin nulis diary?

Iya, curhat segala gitulah. Yang kalau dibaca sekarang, “apa sih?! Ha-ha-ha…” Menulis diary ini kebiasaan sampai besar. Tapi begitu dewasa malah semakin jarang karena engga sempat. Setelah itu mulai ada internet dan blog.

Mulai berinternet dari tahun berapa? Tahun pertama punya email?

SMA, sekitar 1997. Waktu itu aku punya sahabat yang sebenarnya adalah guru bahasa Inggris-ku. Dia mahasiswi jurusan Sastra Inggris tingkat akhir yang sedang menyusun skripsi. Dia inspirasiku banget, suka menulis juga, jadi cocok. Di antara murid-muridnya yang lain, aku murid yang paling klop sama dia. Dia ke perpustakaan kampus (USU), aku ikut. Dia baru pulang dari program AIYEP Australia, kemana-mana kami selalu bersama. Kami sama-sama ke perpustakaan untuk mengakses internet. Dan dia juga senang mengajar, memberi inspirasi ke anak-anak muda, aktif di Pramuka sebagai kakak pembina. Dia yang memperkenalkanku dengan internet, dengan email. Kalau kenal blog sudah tahun 2000-an pas kuliah. Tepatnya waktu aku sudah bekerja sebagai kontributor di Tempo. Ada teman dari Bandung namanya Bobby, sesama kontributor. Dia memberitahu tentang blog. Menulis apa di blog? Ya apa sajalah kata si Bobby.

Pernah sengaja beli buku khusus untuk belajar menulis? Fiksi atau pun non fiksi yang digunakan sebagai referensi.

Dulu engga, malah belakangan iya. Awalnya belajar menulis lebih ke otodidak. Dan waktu di persma, kuliahku Jurnalistik. Awal masuk persma juga karena kuliahnya di Jurnalistik, senior-senior banyak di persma, jaringan juga ke situ. Jadi ya oke masuk persma. Kalau di kuliah kan lama, baru di tahun-tahun akhir belajar menulis feature, tahun-tahun pertama hanya yang dasar-dasar.

Jadi akselerasi kemampuan menulis justru didapat semasa di persma bukan saat kuliah ya?

Iya betul. Jadi sebelum teman-teman kuliah belajar menulis feature, aku sudah dapat duluan dari persma.

Sebagian besar anggota persma saat itu dari Jurnalistik?

Engga. Kalau bukan komunikasi, biasanya anak sastra. Tapi makin ke sini makin banyak. Waktu angkatanku menjabat organisasi, Pimpinan Umum dan Pimpinan Redaksinya anak MIPA. Kalau aku menjabat Pimpinan Usaha.

Pimpinan Usaha?

Saat itu aku usul, kita harus punya yang namanya Pimpinan Usaha. Sebelum kami menjabat belum ada tuh. Aku usul demikian karena berpikir bahwa kita harus bisa menghasilkan uang. Untuk level anak persma, aku termasuk orang yang engga serius-serius amat. Kondisinya saat itu aku sudah kerja di media lokal dengan tema lifestyle. Kenal dengan senior-senior yang terlibat di Aliansi Jurnalis Independen (AJI), aku diajak. Mereka inisiatif bikin media, dan aku pernah terlibat riset dengan beberapa darinya. Karena sudah sempat bekerja di media lifestyle, jadi spirit-nya terbawa ke kegiatan persma kampus, dengan usul jabatan Pimpinan Usaha.

Ini gebrakan pertama di persma USU saat itu?

Iya. Saat itu temanya berat, serius, kebijakan kampus, politik. Aku pikir kita harus bikin iklan, lebih ngepop, bikin profil mahasiswa, bahasanya fun, supaya yang baca lebih banyak lagi. Dan waktu itu aku aktif di beberapa LSM. LSM yang mengurusi HIV-AIDS sebagai pendidik sebaya yang ikut pelatihan. Aku relawan di LSM tersebut dan diharapkan dapat mendidik teman-teman untuk aware tentang HIV-AIDS. Lalu juga menjadi relawan di LSM yang mengurus heritage. Karena bisa menulis, aku direkrut. Bantu project buku tentang Medan, tentang bangunan tua, sejarah, kebudayaan. Jadi garapanku cenderung lifestyle dan humaniora, bukan politik. Terbawa waktu menjabat di persma. Bikin tulisan tentang Medan, art scene-nya, tentang anak-anak gaul Medanlah. Karena saat itu sudah lewat masa reformasi, tahun 2000-an, jadinya lebih bebas.

Kalau hasrat beli-beli buku?

Sejak punya duitlah. Baru rajin beli buku.

Buku pertama yang dibeli setelah menghasilkan uang sendiri?

Aduh engga ingat. Tapi ingat sekali buku yang sangat mempengaruhiku adalah Saman. Ayu Utami. Sebelumnya lebih suka baca novel-novel terjemahan, jarang mengikuti novel Indonesia, justru baca terjemahan atau bahasa Inggris sekalian. But Saman was like mind-blowing. Wow! Penulis Indonesia bisa begini, masih muda pula. It was amazing! Saman jadi seperti bible buatku, dibaca berulang-ulang sampai lecek. Lalu status Saman sebagai pemenang Sayembara DKJ saat itu. Wah keren nih!

Saman mengubah apa? Persepsi atau afirmasi? Nge-switch atau mengamini apa yang Dinda pikirkan selama ini?

Lebih ke nge-switch. Karena dulu kayaknya kurang percaya sama penulis-penulis Indonesia gitulah, engga ada yang sangat ingin aku baca saat itu, kecuali (karya) maestro. Buku-buku yang dijual juga engga ada yang greget. Dibeli untuk ingin tahu saja. Saat baca Saman, like i really really really like it. Oh my god, she’s talking about sex, talking about politics, dia mencampur semuanya. Ternyata bisa ya menulis cerita seperti ini, tidak harus dengan alur kronologis. Di Saman kan bolak balik (alurnya).

Dan tetap terasa smooth ya?

Iya. Lalu ada email, ada suratnya, mewakili zaman banget. Sejak itu aku mulai mencari mana lagi ya buku-buku penulis Indonesia yang seperti ini.

Kalau buku non-fiksi?

Aku suka membaca novel, cerita fiksi membuat kita berimajinasi. Tidak begitu suka non-fiksi karena serius banget. Kecuali hanya untuk tugas, untuk pekerjaan. Bagiku non fiksi adalah kerja. Karena pekerjaan sebagai wartawan ya harus baca buku non fiksi, cari referensi. Ada satu dua yang dinikmati, tapi secara umum membaca non fiksi adalah bagian dari pekerjaan. Dulu paradigmanya begitu.

Kita sama-sama mengalami masa menyewa buku, apa pernah tidak mengembalikan buku yang disewa atau dipinjam?

Tidak! aku anak rajin. Ha-ha-ha… selalu mengembalikan buku tepat waktu.

Serius?

Iya. Karena sayang sama bukunya, ya buku itu harus dibaca juga sama orang lain gitu loh. Malah waktu mau tamat (kuliah) diminta menyumbang buku, seingetku aku memilih buku yang paling disuka. Lupa buku apa, tapi buku yang sangat kusuka, itu yang disumbangkan.

Sejak kuliah sudah punya kebiasaan seperti itu? Memberi buku ke orang lain.

Iya. Soalnya kalau suka aku akan nyuruh-nyuruh orang lain untuk ikut baca. Ha-ha-ha…

Jadi perasaan antara ingin membeli, menyewa, meminjam, bahkan mengembalikan dan ikhlas memberikan, menghibahkan buku ke orang lain itu sama ringannya begitu ya?

Iya! Aku percaya karya yang bagus itu harus dibaca oleh banyak orang. Dan tahu susahnya mencari buku, atau karena mahal.

Luar biasa. Okay, latar belakang sebagai jurnalis, gemar baca suka nulis, manfaatnya dalam peran sebagai ibu rumah tangga apa saja?

Oh banyak banget! Sekarang justru banyak koleksi buku non fiksi, terutama tema parenting. Soal anak, tentang psikologi perkembangan, dan buku topik bisnis. Jadi paradigmanya berubah sekarang. Mau bangun rumah, cari buku arsitektur, desain. Being a parent you know, you have to be critical. Selama ini aku menganggap bahwa aku orang yang cukup open mind, kalau menerima suatu hal cenderung skeptis dulu. Engga akan terima bulat-bulat, tapi cari referensi lain. Kalau orang bertanya, aku kok banyak banget baca buku parenting, teoretis banget? Tidak juga. Karena dalam membaca ada dialektikanya, lalu membaca referensi lain dan tentunya melihat anak sendiri. Oke banyak baca buku tapi aku ga teoretis kok, itu bagian dari referensi. Tidak ada satu hal yang benar dalam being a parent. Satu hal cocok buatku, belum tentu cocok buat orang lain.

Bagaimana soal menumbuhkembangkan minat baca kepada anak?

I love this question! Ha-ha-ha… Kita kan suka baca, semua orang pasti ingin anaknya suka baca. Saat Malik masih bayi sudah banyak koleksi buku bacaan. Tapi ternyata ga efektif. Dulu suka membacakan buku buat Malik, tapi dia engga ngerti. Cerita panjang, klasik-klasik, Puss in the Boots dan lain-lain. Banyak tulisannya, ga pengaruh ke Malik. Buku-buku pertama yang kubeli belum terpakai sampai sekarang karena engga menarik buat dia. Lalu yang kulakukan adalah menyesuaikan buku-buku sesuai perkembangan Malik. Kayak di awal itu dia sukanya gambar-gambar, belum ngerti cerita. Berarti beli bukunya yang ada gambar dan ada sensory play-nya. Satu buku itu diulang-ulang terus.

Biasanya berapa lama?

Lebih dari sebulan, saat itu. Dikasih apa pun yang baru dia masih ingin diceritakan buku yang sebelumnya. Sampai aku sempat berpikir, “ah udah deh engga usah beli buku lagi.” Nah saat dia sudah mulai mengerti, aku beli dan aku tahan. Setiap satu bulan hanya dikeluarkan satu buku, itu terus diulang-ulang. Itu pun Malik ingin buku yang lain, baru dibaca sebentar minta ganti buku lain. Makin besar dia makin aktif makin ingin banyak baca buku. Seperti akhir tahun lalu aku browsing banyak buku anak, beli 6-7 buku, lalu kusimpan. Ga dikasih sekaligus. Sekarang makin sering, seminggu satu buku. Malik itu tahu setiap bukunya.

Sesi membaca buku itu malam hari sebelum tidur?

Seringnya malam. Kadang-kadang juga siang, tapi sebelum tidur kami pasti baca buku. Aku engga tahu cara ini benar atau tidak, aku mengajak dia tidur dengan, “ayo cepat ke kasur kalau engga cepat nanti engga bisa baca buku.” Atau, “yah ini baca bukunya satu aja lho.” lalu jawabnya, “yah, ya uda deh aku cepat ke kasur, tapi kita baca bukunya dua atau tiga ya?”

Jadi selalu ada buku di kamar?

Iya, memang buku bacaannya selalu kusimpan di samping kasur.

Sealaminya orangtua mengikuti perkembangan anak, pasti ada harapan apa saja yang harus didapat oleh anak baik secara sosial mau pun personal. Kalau bagi Dinda dan Papin, Malik suatu hari harus bisa membaca Al Quran tidak?

Iya, kalau Quran iya. Untuk soal agama terus terang aku lebih santai daripada suami. Aku lebih ke pendidikan logikalah. Tapi kami sepakat soal agama, yang bisa dilakukan sekarang adalah memberi contoh, misalnya, bapaknya baca Al Quran, bapak ibunya sholat. Kasih contoh harus sayang sama orang, sama tanaman, binatang, hormat ke orangtua, sopan pada semua orang. Kalau soal ritual nanti saja. Kami berdebat sih, okelah Bapak maunya umur berapa dia bisa sholat? tujuh tahun? “Iyalah, tujuh tahun sudah harus bisa sholat.” Oke, kalau begitu jangan diajarkan sekarang, mulai umur 5 atau 6 tahun saja. Yang bisa kita lakukan sekarang adalah seperti memperdengarkan doa. Quran itu kan bahasa Arab, kami memang senang memperkenalkan bahasa kepada Malik. Jadi ya memperkenalkan bahasa Arab dengan doa-doa. Kami memperdengarkan saja, bukan meminta dia untuk hafal. Jadi tidak dipaksa. Misalnya Al Fatihah dia sudah hafal karena kami sering memperdengarkan. Lalu setiap Jumat aku sering dengar murotal dari handphone sebelum tidur. Sebelum tidur biasanya berdoa, Al Fatihah, Al Ikhlash, aku yang mengucapkan, lama-lama dia hafal sendiri. Yang penting berdoa bagaimana pun caranya, “terima kasih ya Allah hari ini Malik sudah senang, sudah ini sudah itu,” ya engga apa-apa. Malik mulai mengenal angka dan huruf juga seperti itu, kami engga pernah menyuruh dia untuk hafal. Setelah dia tahu karena melihat dan mendengar sendiri baru terkadang kami tes. Lebih seru juga buat dia, “ooh i discover this (huruf dan angka)!”

Apakah buku bisa mengalihkan ketidakhadiran bapaknya sehari-hari?

Engga sih. Belum pada tahap itu. Karena dia sejak dulu, sejak lahir, rutin berpisah. Jadi sudah terbiasa dengan arrangement seperti ini. Banyak yang harus dilakukan, tidak hanya buku. Harus main bareng, jalan-jalan, dan buku salah satunya. Tidak bisa kalau kangen terus dikasih buku, ya engga. Kangen ya telfon, ha-ha-ha.

 

 

 

 

 

 



1 thought on “Dinda Jou”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *