is in the house

Cerita Jessica Tentang Inspyro Moves

Cerita Jessica Tentang Inspyro Moves

Atmosfer dunia seni tari Bandung bisa dibilang tak semenggeliat kota-kota lain di Indonesia. Semisal Jakarta, Jogja, Solo, Padang. Mudah saja melihatnya, bila sedang terselenggara acara atau festival berskala nasional atau internasional, Bandung seringkali dilompati. Dari Jakarta, akan terbang ke Jawa bagian tengah tanpa singgah di Jawa bagian barat.

Tentu banyak penjelasan mengapa hal ini terjadi. Dunia tari di Bandung agak-sedikit-rada slow motion bila dibanding bidang seni kreatif lainnya seperti seni rupa, musik, fashion, desain, bahkan kuliner. Namun sejak 2013 muncul wadah inisiatif baru dari kelompok mau pun individu yang cukup menggairahkan, seperti One Dance Academy, Sasi Kirana Dance Camp, Inspyro Moves, Bandung Dance Collective. Mereka bergerak dari luar skena lingkungan tari yang sudah establish dan memulainya dengan visi, misi, sasaran, juga segmen menarik.

Inspyro Moves yang digagas oleh Jessica Christina misalnya, menawarkan hal baru dan mungkin sebenarnya selama ini dicari oleh penari-penari di kota Bandung. Dalam perjalanannya, Inspyro mampu menjaring pelaku dan penikmat tari yang tak hanya berasal dari kota kembang, tapi juga kota-kota lain di Indonesia. Jessica menceritakan cita-citanya melalui wadah yang ia ciptakan.

Apa itu Inspyro Moves dan apa bedanya dengan platform tari lain yang sudah ada di Indonesia?

Inspyro Moves adalah sebuah wadah bagi penari-penari Indonesia untuk menambah wawasan di dunia tari, menjalin perkenalan dan koneksi dengan penari antar kota untuk saling menginspirasi satu sama lain guna mendukung keberlangsungan seni tari di Bandung dan Indonesia. Khususnya di sini pada awalnya lebih berfokus pada seni tari kontemporer yang memang saya dalami secara konsisten selama 7 tahun perjalanan tari saya di Singapura.

Bedanya dengan yang ada di Indonesia, sejujurnya saya tidak pernah terpikir untuk menjadi beda dari yang lain. Saya hanya fokus pada kerinduan untuk bisa berbagi lewat pengalaman dan apa yang bisa menjadi inspirasi buat penari-penari lain di Bandung dan di Indonesia. Bentuk dan format dari apa yang dilakukan Inspyro Moves juga masih terus evolve, disesuaikan dengan kebutuhan para penari, publik, budaya di Bandung. Dan juga masih ada keterbatasan yang saya miliki saat ini dari segi waktu, tempat, koneksi, dana, dan lain-lain.

Yang jelas, saya ingin wadah ini terbuka untuk umum, tidak membedakan latar belakang dari studio tari mana, grup tari apa, pengalaman tari bagaimana, ataupun kota tempat asal. Saya ingin wadah ini menjadi tempat dimana para penari dengan pengalaman dan latar belakang berbeda-beda bisa berkumpul, saling kenal, berbagi, tukar pikiran, belajar, menambah wawasan, menginspirasi satu sama lain, dan mungkin bisa bekerja sama di kemudian hari.

Mengapa Inspyro didirikan? Apa visinya?

Saya berasal dari Jakarta dan telah menekuni dunia tari sejak umur 10 tahun. Lalu melanjutkan ke studi tari di LASALLE College of the Arts di Singapura. Setelah 2 tahun lulus dari LASALLE saya mendapat kesempatan untuk mengajar di O Oschool dan di beberapa sekolah perguruan tinggi (ekstrakurikuler tari) lalu saya bergabung sebagai full-time dance artist di T.H.E Dance Company dan tur ke beberapa negara untuk pertunjukan.

Tahun 2014 saya menikah dan pindah ke Bandung. Setelah banyak pengalaman yang dilewati, saya memiliki kerinduan untuk berbagi dengan para penari di Bandung (khususnya karena saya bertinggal di sini) dan Indonesia dari pengalaman-pengalaman yang pernah didapat. Saya merasa wadah ini bisa menjadi pembelajaran yang berharga buat mereka walaupun mungkin tidak berkesempatan untuk menekuni dunia tari di luar dan berharap lewat Inspyro Moves bisa berbagi pengalaman tersebut. Saya juga ingin memperkenalkan tari kontemporer kepada lebih banyak penari dan masyarakat, sehingga ada ketertarikan dan apresiasi untuk seni bidang ini.

Dalam bentuk kegiatan apa saja eksekusinya?

Selama 2 tahun terakhir, yang Inspyro Moves lakukan adalah dalam bentuk event. Diadakan setiap 3-4 bulan sekali, diantaranya adalah:
> ‘workshop’, mengundang pengajar/koreografer dari luar negeri dan dalam negeri yang telah memiliki banyak pengalaman di dunia tari, memilki ciri khas atau keunikan dari style-nya, dan dapat menjadi inspirasi bagi para penari yang nantinya mengikuti kelas.
> yang kedua ‘dance intensive‘ dibuat untuk sekelompok kecil penari (yang telah dipilih melalui online audition) lalu mereka menjalani pelatihan intensif selama 4 hari berturut-turut dan melakukan pementasan di hari terakhir.
> yang ketiga adalah ‘dance competition‘, Inspyro bekerja sama dengan TRDO (The Royal Dance Off) Singapura dimana juara 1 dari lomba ini akan dikirim ke Singapura (akomodasi penuh) untuk berlomba di final TRDO Singapore dengan kandidat-kandidat penari dari Singapura.
> occasionally juga diadakan sharing session oleh independent artist, dimana mereka bisa berbagi tentang teknik/belief/style mereka dalam tari kontemporer.

Saya pun pernah berniat untuk mengadakan regular foundation course, namun baru berjalan 1 cycle dan ternyata saya hamil. Jadi belum melanjutkan ke gelombang berikutnya.


Dengan siapa saja Inspyro bekerjasama?

So far, karena banyak mendapat koneksi di dunia tari saat saya based di Singapura selama 7 tahun, jadi banyak pengajar yang didatangkan dari Singapura. Yang memang saya kenal atau cukup tahu, atau pernah melihat karya mereka atau kelas saat mereka mengajar. Beberapa yang pernah diundang sebagai pengajar adalah dari The Royal Dance Off, Sigma Contemporary Dance, Soul Signature. Dan juga dari dalam negeri, saya mencari tahu beberapa independent artist yang menurut saya mempunyai keunikan dan sesuatu yang dapat dibagi dan menjadi inspirasi bagi para penari disini. Seperti Moh Hariyanto (Hari Ghulur), Gianti Giadi, dan Alisa Soelaeman. Tentunya ke depan saya berharap bisa kerjasama dengan artis lain baik dari dalam dan luar negeri, dan mungkin dari art form lain sehingga bisa berkolaborasi.

Sudah berapa tahun Inspyro terselenggara?

Inspyro Moves berdiri sejak Agustus 2015.

Apa harapan kedepan?

Kalau semua Tuhan lancarkan, di pertengahan tahun depan Inspyro Moves akan memiliki studio tetap. Jadi selain event yang biasanya kami lakukan per 4 bulan, saya berencana memiliki regular open classes dan foundation course. Juga beberapa program lainnya yang saya harap sungguh bisa menjadi wadah yang berguna untuk para penari belajar, tukar pikiran, dan sharing. Saya harap Inspyro Moves Center ini bisa jadi pit stop untuk para penari dari berbagai kota di Indonesia datang untuk menambah wawasan, dan juga bersama-sama saling membangun, menginspirasi, sehingga dunia seni tari di Indonesia terus berkembang dan bisa go international.

Anda adalah owner, founder, juga fasilitator?

Ya saya adalah founder dan owner. Selama 2 tahun pertama ini saya yang melakukan eksekusi acara-acara yang berlangsung dibantu volunteer yang memang saya sudah kenal dan approach demi membantu terselenggaranya acara. Mungkin karena saya prefer untuk memulai dari kecil, dan melakukan seperti yang saya harapkan jadi merasa lebih nyaman untuk menjalankannya dimulai dari sendiri dahulu selama bisa. Walaupun nantinya setelah Inspyro memiliki tempat tetap, kegiatan yang lebih banyak, dan event yang lebih besar tentunya harus memiliki core team yang akan membantu saya dalam bertukar pikiran untuk hal-hal yang bisa kita lakukan dan juga menjalankan setiap perencanaan yang ada.

Di mana saja kegiatan-kegiatan Inspyro dilakukan?

Beberapa tempat yang pernah kami pakai untuk studio tari saat workshop (di Pungkur, studio lama Bridge Dance Academy sebelum mereka pindah, di Burangrang, di studio VIP Karapitan). Dan untuk performance di Spasial dan IPC hall Favehotel Cihampelas.

Segmen penari yang mana yang ingin dirangkul oleh Inspyro? Apakah anak-anak termasuk?

Kerinduan awalnya adalah untuk merangkul penari-penari muda sekitar umur 12-25 tahun untuk membekali mereka dalam perjalanan karir tari ke depannya, namun setelah mulai dijalani saya sadar bahwa diluar segmen tersebut pun banyak orang yang ingin mengenal dan belajar mengenai tari kontemporer. Terlepas dari itu hanya sebatas hobi, kesenangan, atau pembelajaran, saya rindu untuk ikut merangkul banyak orang tanpa dibatasi usia. So far yang saya lihat dari crowd yang mengikuti workshop segmen umur sekitar 10-40 tahun. Dan Inspyro welcome all ages to learn, selama mereka merasa kuat, dan bisa mengikuti berlangsungnya kelas.

Untuk anak-anak pun sebenarnya sudah sempat melaksanakan 3x workshop yang dibuka khusus untuk usia 8-14 tahun. Tapi responnya lama kelamaan tidak begitu bagus, mungkin karena para orang tua prefer anak-anaknya mengikuti kelas reguler daripada hanya sekedar workshop. Jadi saat nanti kami memiliki studio tetap saya juga berencana akan memiliki foundation course untuk remaja. Saya rasa dari 8 tahun ke atas. Masih dalam perencanaan.

Apakah Inspyro hanya akan bergerak di genre kontemporer? Mengapa?

Awalnya saya berfokus pada kontemporer karena genre ini yang cukup lama didalami dan saya merasa begitu banyak yang bisa digali dan dipelajari dari genre kontemporer. Dan juga karena genre ini masih jarang dikenal, dipelajari oleh penari-penari atau masyarakat di Bandung/Indonesia yang saya rasa bisa jadi awareness untuk mereka mengenal dan menghargai. Tentunya saya sangat terbuka untuk genre lain karena saya juga menyukai balet/hiphop/jazz. Di tahun ini pun Inspyro sudah mulai memperkenalkan street jazz dan hiphop dan mendapat respon yang sangat baik dari para penari. Jadi untuk ke depannya kita akan lihat bagaimana untuk juga menyertakan genre-genre lain, namun saya rasa kita tetap akan fokus pertama di genre kontemporer. Karena ini juga adalah genre yang saya passionate about dan saya rindu untuk memperdalam dan memperkenalkan lebih jauh lagi.

LIT, tajuk event Inspyro Moves, Maret 2018
Ikuti dan saksikan kompetisi tari kontemporer yang diselenggarakan untuk kedua kalinya oleh Inspyro Moves

Mengapa Bandung? Apa problem seni pertunjukan di Bandung dan bagaimana peran yang dibayangkan akan dan bisa dilakukan Inspyro?

Alasan utama karena saya menikah dengan orang Bandung, sekarang tinggal di Bandung dan mengurus anak juga 🙂 Tentunya untuk ke kota-kota lain kita akan bisa bekerjasama ke depannya. Tapi sekarang saya mau membangun dulu di tempat dimana saya tinggal, supaya fondasinya kuat, dan saya juga tidak perlu travel terus-terusan saat mengajar atau mengadakan event.

Jujur saya belum benar-benar mendalami dunia seni di Bandung, karena koneksi belum begitu luas. Yang saya lakukan selama ini hanya satu demi satu langkah dari apa yang saya tahu dan apa yang mau dibagikan. Kerinduan saya tentunya bisa perlahan masuk dan mengenal orang-orang yang sudah berpengalaman dalam seni pertunjukan Bandung, sehingga bisa saling bertukar pikiran, menginspirasi, berkarya bersama.

Saya rasa Inspyro sendiri bisa menjembatani masyarakat awam yang mungkin tidak begitu paham atau tertarik dengan dunia seni, untuk bisa mulai mengenal dan menghargai seni di Bandung yang dimulai dari tari. Karena tidak banyak orang yang mungkin mengerti atau ingin melihat sesuatu yang abstrak dibanding sesuatu yang menarik atau entertaining. Saya berharap lewat Inspyro, bisa menyajikan kombinasi yang seimbang sehingga ada ketertarikan dari masyarakat banyak untuk mengenal dan menghargai seni.

Sudah cukupkah infrastruktur seni pertunjukan di Bandung dan apa saja yang masih mendesak untuk disediakan?

Saya sangat berharap di Bandung memiliki theatre/black box dengan fasilitas dan peralatan yang bertaraf internasional. Sehingga para seniman di Bandung ataupun guest performers dari luar negeri bisa memiliki platform yang nyaman dan kondusif sehingga bisa maksimal dalam menampilkan karya mereka dengan segala kreatifitasnya. Ini juga yang akan meng-encourage para hadirin untuk menyaksikan penampilan seni dan menjadi pengalaman yang membekas.

Yang kedua adalah studio tari dengan skala besar dan standar (flooring dan room) internasional sehingga saat workshop kita memiliki fasilitas yang nyaman dan kondusif untuk belajar. Dan juga mengundang pengajar dari luar negeri. Saya rasa saat ada fasilitas yang memadai dan excellent, banyak orang akan tertarik dan willing untuk datang, mendukung, dan terlibat.

Pernah berpikir bekerjasama dengan kampus? Jika tidak, mengapa?

Jujur belum pernah terpikir, karena mungkin saya tidak ada koneksi dengan para pengajar atau anggota dari kampus di Bandung. Selama ini saya masih berfokus untuk membuka public event, jadi untuk siapa pun yang mendapat informasi tentang acara kami, terbuka untuk umum. Tentunya kalau ke depan ada kesempatan untuk berkerjasama dengan kampus, saya dengan senang hati mau terlibat apabila jadwalnya memungkinkan dan bila project yang dilakukan selaras dengan Inspyro Moves.

Dimulai dengan langkah kecil dan yang paling memungkinkan, Inspyro berkembang menjadi wadah yang selalu ditunggu para penari di Bandung dan kota lainnya. Seperti kata Jessica, one move at a time!

 

Foto dan poster oleh Inspyro Moves

 

 



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *